Jasmine

Semua berita layak dipublikasikan memang slogan yang hebat, tetapi juga suatu penipuan. Sekadar contoh, koran The New York Times memang menjadi panutan seluruh koran seantero jagat persuratkabaran. Lahir sejak tahun 1851, lalu diambil alih oleh Adolph Ochs, dan ditangannya koran tersebut dikenal di seluruh dunia. Tak cuma di tangan Ochs koran ini dikenal luas, tapi juga sanak keluarga lainnya, anak, cucu, dan cicitnya.

The New York Times memang koran milik perusahaan keluarga besar Ochs-Sulzberger yang telah lebih dari 100 tahun memimpin koran ini-masuk ke generasi keempat saat ini-dan liputannya ‘luar biasa’, karena tak hanya berpengaruh bagi pembaca koran di Amerika, atapun para petinggi pemerintah Amerika, tapi juga seluruh dunia. Jaringannya korespondennya luas, peraih Pulitzer terbanyak dari koran Amerika lainnya.

Jika kita membandingkan koran yang juga besar dan memiliki pengaruh luas di Indonesia, mungkin kita akan menyebut nama Kompas. Mungkin ada banyak pembaca telah mengetahui, mengapa koran itu bisa jadi demikian besar, berkembang, dipercaya, serta menorehkan pengaruh yang luas. Apa prestasi penting koran itu, bagaimana mereka meraih kepercayaan publik dan pula sejarah? Dan mengapa pula kisah tentang sebuah koran sangat penting untuk ditulis dan dibaca bagi para pecintanya?

Saya tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan konyol itu. Sebab mereka tak mempunyai ruang dan waktu untuk menangani semua tindakan dan kata-kata yang dilakukan dan diucapkan yang penting bagi pembacanya. Apalagi tentang apa yang terjadi tiap hari di bagian lain. Semua orang akan tahu bahwa menyibukkan terutama bukanlah memutuskan aoa yang akan dimuat tetapi apa yang tidak akan dimuat. Lihat. Seorang wartawan akan kembali ke kantor dari dengar-pendapat dalam aula para wakil rakyat mungkin membawa setumpuk pernyataan dan catatan berlembar-lembar, tetapi ia diberitahu bahwa ia hanya mempunyai 14 kolom-inci untuk menyampaikan apa yang ia catat selama berjam-jam. Seorang editor mungkin mendapat dua kolom untuk mengungkapkan isi suatu persetujuan mengenai persenjataan-strategis yang perundingannya memerlukan waktu tujuh tahun lamanya.

Apalagi bagi televisi, proses pemilihannya bahkan lebih kejam. Seharusnya mereka memperlakukan para pembaca dengan segala hormat yang sepatutnya, dan memberikan penjelasan yang cermat mengenai keterbatasan waktu dan ruang yang dihadapi dalam pekerjaan tersebut, dan mereka akan mengakui kekurangan dan ketidaksempurnaan pekerjaannya [semoga]. Sehingga mereka tidak bereaksi membela diri ketika kesemuanya itu ditunjukan kepada publik. Saya bisa mengatakan saja apa yang saya ketahui, bahwa proses memilih apa yang akan disajikan kepada pembaca tidak hanya melibakan fakta-fakta obyektif, tetapi juga penilaian subyektif, nilai-nilai pribadi dan ya, prasangka. Alih-alih menjanjikan SEMUA BERITA YANG PATUT DICETAK, saya lebih suka mengatakan-berulang-ulang, sampai benar-benar dipahami, bahwa koran yang dijatuhkan di ambang pintu anda adalah laporan yang ditulis sepihak, tergesa-gesa, tidak lengkap, pasti agak cacat dan tidak cermat soal apa yang saya dengar 24 jam. Berita ini tidak lurus, walaupun saya sudah sungguh-sungguh berusaha untuk tidak terang-terangan berpihak, disebabkan proses peringkasan untuk memungkin anda memungut koran dari ambang pintu dan membacanya dalam waktu kira-kira satu jam.

Menurut pendapat saya, tidak hanya akan merasa leluasa untuk mengoreksi dan memperbarui berita-berita sekitar, saya akan mendorong para pembaca untuk ikut menyumbangkan informasi dan pemahamannya kepada sebuah proses. Saya akan bisa mengakui sesuatu yang sulit diterima oleh kebanyakan publik; bahwa mereka juga mempunyai sesuatu yang bisa diceritakan, selain mendengar. Dan apabila para pendengar itu merasa bahwa mereka adalah bagian dari suatu proses komunikasi, dimana mereka adalah peserta bukan sekadar konsumen, mereka akan lebih mudah memahami bahwa suatu kebebasan manakala perintah MENULIS BERITA TANPA TAKUT DEADLINE dapat diperlakukan pada kekuatan pers.

Selamat Membaca, 14 Maret 2011

Melati Pandanwangi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s