Teror Paket Bom: Pengalihan Isu Dan Skenario Intelijen

Paket Bom: Ahmad Dani

Paket Bom: Ahmad Dani

Pengamat Intelijen Herman Ibrahim yakin bom buku yang dialamatkan kepada Ulil Abshar Abdala, Gories Mere dan Yapto Suryosumarno bukanlah dari kelompok Islam yang dituding radikal tetapi dari intelijen negara. Tujuannya untuk mengalihkan isu yang mendera pemerintah.

“Kalau itu dari kelompok radikal, itu bodoh sekali!” tegas Herman kepada mediaumat.com, Kamis (17/3). Karena hal itu akan menjatuhkan reputasi kelompok tersebut dan pencitraburukan terhadap perjuangan Islam.

Menurutnya, kalau memang niat, Ulil dapat dengan mudah ditusuk, selesai. Tidak pakai acara bom buku peringatan segala, sehingga membuat heboh media massa, tetapi Ulilnya tidak apa-apa.

Pengamat Intelijen Herman Ibrahim

Pengamat Intelijen Herman Ibrahim

Menurutnya, kuat dugaan bahwa intelijen negara tengah menjalankan operasi intelijen penggalangan untuk merubah persepsi masyarakat terhadap pemerintah.

“Operasi ini mirip Opsus Ali Murtopo dan petrus Beni Murdani,” ujarnya. Operasi yang dijalankan di era Soeharto untuk mengangat citra pemerintah dengan mengkambinghitamkan, menjebak, dan membunuh karakter kelompok-kelompok perjuangan Islam.

Pola semacam itu, diyakini Herman terulang lagi di era SBY. “Indikasinya kan gampang saja, yang jadi target itu kan orang-orang yang tidak disukai oleh kelompok radikal,” ujarnya. Hal itu untuk mengesankan pelakunya adalah kelompok radikal.

Sehingga perhatian publik pun tidak lagi ke skandal-skandal yang menimpa pemerintah, seperti Wikileaks, Gayus, dan Century.

Hal senada juga diungkapkan Pengamat Intelijen Suripto.

“Analisa saya condong pada skenario intelijen. Karena yang bisa melakukan ini cukup profesional. Kalau nggak intelijen ya teroris,” kata pengamat intelijen, Suripto, dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (16/3/2011).

Menurutnya, kemungkinan teroris melakukan hal itu kecil. Sebab setelah beberapa terduga teroris ditangkap, tewas, serta Abu Bakar Ba’asyir yang diduga terlibat terorisme menghadapi pengadilan, gerakan jaringan teroris di Indonesia tiarap.

Pengamat Intelijen Soeripto

Pengamat Intelijen Soeripto

Korban bom buku untuk Ulil

“Kemungkinan dilakukan teroris kecil. Bom ini semacam ancaman, kalau ancaman itu kan bukan perbuatan yang sudah nyata. Ancaman itu lebih kepada istilahnya, psy war,” tutur mantan anggota DPR itu.

Teroris tidak perlu melakukan psy war. Teroris lebih memilih mengeksekusi langsung targetnya dengan bom yang mematikan.

“Saya kira ini rekayasa intelijen, tapi yang mana itu masih jadi pertanyaan,” tambah Suripto.

Dia berpendapat, tindakan tersebut merupakan perbuatan liar yang sulit terkontrol. Intelijen masih banyak yang menggunakan paradigma represif untuk mengontrol pihak tertentu.

Paket bom buku tersebut sama-sama mencantumkan alamat di Bogor. Menurut Suripto, hal itu untuk memberikan kesan kalau hal itu adalah kerjaan teroris. Sebab beberapa waktu yang lalu, pernah ada penangkapan teroris di Bogor yang merupakan jaringan Noordin M Top. Tindakan ini bisa dinilai dilakukan untuk memojokkan pihak-pihak seperti Abu Bakar Ba’asyir yang menjadi ‘ikon’ teroris.

“Ini saya rasa sudah diskenariokan. Meskipun pakai beberapa alamat yang menunjukkan seakan-akan pengirimnya berbeda dan berada di tempat berbeda, namun mastermind-nya satu,” terang Suripto yang sedang berada di Makkah.

Apakah kemungkinan akan terjadi peristiwa serupa? “Yang namanya psy war, dilakukan tergantung tingkat kepentingan dari upaya melakukan teror mental. Bisa saja berlanjut, meningkat, tergantung kebutuhan dan tergantung pesanan. Yang penting adalah sasarannya, menunjukkan ini ada terorisme,” kata Suripto mengunci pembicaraan.

Pada Selasa kemarin, bom buku dikirimkan untuk tokoh Jaringan Islam Liberal Ulil Abshar Abdalla, Kalakhar Badan Narkotika Nasional Komisaris Jenderal Gories Mere dan Ketua Umum Partai Patriot Japto S Soerjosoemarno.

Bom buku untuk Ulil meledak sebelum Gegana datang. 6 Orang terluka dalam peristiwa tersebut. Bahkan salah satu korbannya adalah Kasatreskrim Polres Jakarta Timur Kompol Dodi Rahmawan yang harus kehilangan satu tangannya. Sedangkan bom buku untuk Gories dan Japto dapat dijinakkan.

Beberapa Kejanggalan Bom Buku Ulil

Ada beberapa kejanggalan kalau dikatakan bahwa kelompok yang dituding sebagai teroris telah memberikan peringatan kepada Ulil Abshar Abdala, Gories Mere dan Yapto Suryosumarno dengan bom buku. Hal itu diungkap Ketua Lajnah Siyasiyah DPP Hizbut Tahrir Indonesia Harits Abu Ulya kepada mediaumat.com, Kamis (17/3).

Menurutnya, kelompok teroris mana pun di dunia, tidak pernah memberikan serangan awal sebagai peringatan pada lawan-lawan mereka, tetapi langsung memberikan serangan yang mematikan.

Memang, Ulil dikenal sebagai liberalis anti Syariah Islam dan pembela aliran sesat Ahmadiyah. Juga sudah menjadi rahasia umum Gories Mere sebagai aktor belakang layar war on terrorism­-nya Amerika di Indonesia. Sehingga mereka wajar menjadi sasaran pemboman pihak-pihak tertentu.

Tapi anehnya bom tersebut dikirim ke BNN yang menangani narkoba, bukan dikirim ke rumah Gories Mere atau ke markas Densus 88. Begitu juga untuk Ulil, paket bomnya di kirim ke kantor radio FM 68 H. Bom untuk Yapto lebih tidak masuk akal lagi. “Apa relevansinya ia dengan benturan pemikiran Islam ‘garis keras’?” ujarnya.

Karena, lanjut Pengamat Kontra Intelijen ini, teroris sejati, yang bukan rekaan intelijen penguasa, memiliki pola standar operasi. Biasanya cara mereka mengeksekusi target yang bersifat personal, bukan massa atau lembaga maupun gedung, adalah langsung menyerangnya secara individual.

Jadi kalau memang pelakunya adalah benar-benar orang yang dituduh sebagai teroris maka yang paling mungkin dilakukan adalah menembak langsung. “Baik dari jarak dekat atau dengan sniper,” Harits mencontohkan.

Selain itu, bisa juga dengan menikam, atau bom bunuh diri atau dengan bom berpengendali jarak jauh, atau meracuninya seperti yang dialami Munir atau mantan intelijen Rusia yang masuk Islam Levitnenko.

Mengirimkan paket bom ke kantor dengan sasaran personal, tidaklah lazim karena kemungkinan melesetnya amat besar. “Kasus 3 bom yang dikirim ke rumah atau ke kantor seperti yang terjadi beberapa hari lalu, jauh dari sasaran personal!” tegasnya.

Bom-bom itu lebih bersifat mengacaukan keamanan belaka, karena terkategori berdaya ledak rendah. Maka tidak aneh kalau paket bom ini divonis sebagai produk intelijen. Karena dengan bom buku ini pihak-pihak tertentu menjadi sangat diuntungkan.

Bagi pemerintah isu ini menguntungkan karena perhatian publik dan politisi pun teralihkan dari isu Wikileaks dan isu lainnya yang menyudutkan SBY. Bagi liberalis plularis isu ini pun menguntungkan karena mengundang simpati kepada kelompok liberal yang pro Ahmadiyah.

Bagi BNPT isu ini pun sangat menguntungkan untuk kontinuitas proyek WOT (war on terrorism) beserta target dibaliknya. “Karena saat ini juga proses sidang Ustadz ABB terkait isu terorisme terancam terbuka kedok konspirasinya pasca pengakuan taubat Khairul Ghazali di balik jeruji besi Polda Sumut,” pungkasnya.
(media umat/mugiwara no nakama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s