Telaah kritis: Kepantasan CRCS di mata Islam (Sesatnya Propaganda Penyatuan Agama )

Perlu diketahui, Program Studi Agama dan Lintas Budaya (Center for Religious and Cross-cultural Studies atau CRCS) adalah program S-2 (pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogjakarta, yang didirikan pada tahun 2000. Tiga wilayah studi yang menjadi fokus pengajaran dan penelitian di CRCS adalah hubungan antaragama, agama dan budaya local, serta agama dan isu-isu kontemporer. Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah, apakah dibenarkan jika ide-ide pluralisme itu dipaksakan terhadap sebuah agama? Tidak mustahil justru yang terjadi nanti adalah sebagaimana ajaran-ajaran sesat kelompok Utan Kayu yang telah merubah cara dan sistem beragama (baca: Islam). Rasanya belum hilang dari ingatan tragedi keji anjinghuakbar ketika itu. Apakah sebanding jika suatu hal yang dikatakan sebagai ilmu pengetahuan justru digiring sebagai mesin penghancur kemurnian beragama, dalam hal ini adalah AQIDAH. Tentu saja Islam yang mengikut Sunnah tidak seperti Islamnya penganut faham pluralis yang selalu mengatakan bahwa semua agama sama.

Dalam perkara agama, kita tidaklah sedang adu argumen dan memejahijaukan teori-teori para pemikir, bukan. Karena jika agama yang merupakan wahyu ditimbang dari kacamata filsafat Ilmu Kalam tidak lain dan tidak bukan kehancuranlah yang terjadi.* Generalisasi bahwa IAIN adalah sesat juga bukan simpulan yang benar, karena sebuah sistem belum tentu berhasil mensistemkan himpunannya~ Akan tetapi apakah UGM hendak meniru kegagalan IAIN dalam menjaga visi utama sebuah Madrasah Islam? Wacana Antrosphia Parennialis harusnya tidak difahami sebagai jurus mabuk untuk mensterilkan agama dari urusan dunia~ ini musibah~ benarlah jika ditinjau dari perspektif ilmu sosial (humaniora), keterikatan budaya dengan masyarakat adalah tidak terpisah tapi itu bukan alasan untuk meniadakan esensi ultim sebuah agama (baca: Tauhid) hanya demi untuk bisa mengejar ketertinggalan dalam membaca dinamika zaman atau arah kebudayaan.

Konflik sosial tidak bisa diselesaikan dengan hanya memperlajari kultur secara mentifa-sosiofak dan artefaknya, akan tetapi lebih dari itu adalah PENGEMBALIAN POLA BERAGAMA KE ARAH YANG HAQ, dalam hal ini tentu saja adalah urusan Ulama’. Dan Ulama disini juga bukan para pengkhutbah yang sering muncul di tivi yang menyajikan cara beragama yang KELIRU~ Begitu jelas pluralisme telah merugikan Islam, ummat yang seharusnya mendapatkan rujukan berIslam yang benar justru dijerumuskan pada ke-asyikan beragama ala Pluralis yang full music dan ikhtilat (CAMPUR BAUR ANTARA LELAKI DAN WANITA YANG BUKAN MAHROM). “Ketika kepercayaan dan system nilai menjadi absolut –tidak memberi ruang kepada penafsiran alternatif—dan dipaksakan kepada yang yang lain, sebenarnya kita sudah berbicara mengenai fundamentalisme. Perempuan, gay dan lesbian dan ODHA adalah korban pertama dari fundamentalisme” (Manifesto CRCS)**

Harus dimengerti yaitu informasi atau ilmu yang disampaikan oleh orang biasa jelas berbeda dengan yang disampaikan oleh orang yang memang pakar di bidangnya. Penafsiran mereka yang menuruti hawa nafsu terhadap ayat-ayat Al-Qur`an jelas berbeda dengan penafsiran para ulama tafsir yang memang betul-betul menguasai Al-Qur`an dan ilmu tafsir. Begitu pula pemahaman dangkal dan sesat mereka tentang Sunnah pun pasti berbeda dengan pemahaman para imam hadits yang memang ahli di bidang hadits dan diakui kredibilitasnya. Dan inilah fitnah inilah yang masih jarang diketahui Ummat Islam, karena sudah terlanjur percaya oleh embel-embel Professor Doktor. Padahal dalam Islam semua urusan menyangk Dien haruslah memiliki dalil, bukan serampangan dan ngayawara alias ngawur. (Lihat) Ya aneh, belajar Islam kok sama orang kafir, Theolog, Orientalis, weh… lebih-lebih setelah Universitas Goethe Frankfurt juga membuka Program Theologi Islam.

Bahkan dalam siaran pers-nya di Kampus UGM Jakarta, belum lama ini (1 Februari 2011), CRCS menyampaikan “Laporan Tahunan Kehidupan Beragama di Indonesia 2010”. Ini merupakan laporan ketiga yang diterbitkan CRCS sejak tahun 2008. Hasil penelitian ini disusun oleh Zainal Abidin Bagir, Suhadi Cholil, Endy Saputro, Budi Asyhari, Mustaghfiroh Rahayu, dan AA GN Ari Dwipayana (penulis tamu). Hadir sebagai pembahas laporan tahunan tersebut, yakni: Slamet Effendi Yusuf (Ketua PBNU), Franky Budi Hardiman (STF Driyakarya), dan Yuni Chuzifah (Komnas Perempuan). Memang ada sebuah kontradiksi yang disampaikan oleh Slamet Effendi Yusuf, yaitu perihal latahnya CRCS yang selalu menyalahkan Ummat Islam mengenai gugatan Ummat Islam terhadap pendirian gereja di beberapa tempat, namun entah lupa atau apa, giliran peristiwa pelarangan pendirian Masjid di Papua seolah-olah CRCS buta dari melihat itu semua. Dari tamu yang diundang dalam gelar laporan tahunan itupun juga janggal, seperti diketahui bahwa organisasi yang hadir di situ pun tidak lain tidak bukan adalah penganut mahzab pluralisme. Dan memang ini perkara lain. Tidak baik jika ranah kebudayaan diserahkan kepada manusia yang mengejar promosi intelektual dan dollar~ Tentu memang diskusi mengenai dampak Negatif CRCS bagi Islam ini tidak cukup sampai di sini. Namun kiranya risalah ini cukup sebagai early warning kita, agar TIDAK NGGUMUNAN terhadap logat akademis yang sesungguhnya hanya mengajak pada kehancuran~. * Sebagai garis bantu mungkin bisa dibuka kembali telaah Muhammad Maghfur W, MA dalam bukunya yang berjudul Koreksi atas Kesalahan Pemikiran Kalam dan Filsafat Islam. (mbak Tania)

sumber ilustrasi

2 thoughts on “Telaah kritis: Kepantasan CRCS di mata Islam (Sesatnya Propaganda Penyatuan Agama )

  1. memalukan juga menulis seperti ini dgn menggunakan teknologi kafir, mending pake kain di pajang di jalan jadi murni bukan buatan kafir, atau teriak2x di jalan sekalian biar kelihatan perjuangannya, setelah itu cari makan buat orang-orang jalanan akan lebih baik, daripada copy paste pemikiran orang yg belum tentu bener piss bro

  2. mbak tania… matur suwun atas tulisannya. tapi mungkin mbak tidak menyadari bahwa apa yang mbak tulis itu sangat terkesan emosional dan dangkal. jika ingin mengkritik CRCS lebih dalam dan pedas, silahkan pelajari CRCS dulu, atau setidaknya presentasi ilmu dalam acara Wednesday Forum. begitu juga, jangan suka su’udzun dan menyalahkan orang lain termasuk kyai-kyai yang mungkin mereka juga ikhlas berbagi ilmu dan bersiar Islam. jangan jadikan diri mbak sebagai wanita yang mengaku shohihah, tetapi masih sering menyisahkan dan menonjolkan sifat takabur, dengki dan hasut dalam hati. Jangan berislam secara dhohiri saja…mbak…. eman-eman tenan. mohon maaf.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s