Fenomena “Jama’ah Islamiyah”

Berikut wawancara bersama panglima Laskar Jihad Ja’far Umar Thalib terkait kerusuhan di Poso:

Ustadz mungkin bisa sedikit cerita tentang awal konflik Poso sampai tertangkapnya DPO (daftar pencarian orang) kemarin?

Ustadz : Saya akan sampaikan di sini sebatas apa yang saya ketahui yaitu dari sisi pandangan ideologis tentang pemahaman yang menjadi dasar untuk kemudian orang-orang di bawah pengaruh Abu Bakr Ba’asyir ini melakukan tindakan-tindakan pengacauan di Poso. Kami datang di Poso pertama kali dengan bendera Laskar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah pada tahun 2001, kami datang ke Poso dengan permintaan dari kaum muslimin di Poso, tokoh-tokoh muslimin di Poso yang terus menerus menghubungi kami untuk meminta kedatangan kami di sana.

Bisa di sebutkan siapa saja dari tokoh muslimin yang menghubungi Ustadz untuk meminta Ustadz datang ke sana?

Ustadz : Antara lain Abdul Qadir Al ‘Amri dan beberapa orang yang lainnya. Kemudian kita datang dengan personil sebanyak 500 orang ke Poso untuk melakukan upaya pembelaan terhadap kaum muslimin yang terdesak oleh serangan-serangan dari pihak komunitas Kristen pada kerusuhan Poso jilid tiga. Kami Laskar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah bukan organisasi gelap, akan tetapi kami betul-betul organisasi resmi dan Forum Komunikasi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang merupakan payung organisasi Laskar Jihad itu terdaftar di departemen dalam negeri ketika awal pembentukkannya pada tahun. 2000. Akhirnya kami melakukan upaya dakwah di Poso yakni menerangkan agama sekaligus pembelaan terhadap muslimin langsung di garis depan berhadapan dengan komunitas Kristen. Dan di saat itulah kami melihat adanya fenomena-fenomena penolakan terhadap keberadaan kami dari segelintir orang dari kalangan muslimin Poso yang terpengaruh oleh pemahaman Abu Bakr Ba’asyir ini, sampai bahkan mereka menulis dengan cat pilox di jalan aspal di kota Poso dengan tulisan “keluarkan LJ dari Poso” .

Kami pelajari kenapa mereka melakukan penolakan itu, ternyata memang mereka sudah menuduh dan menyimpulkan bahwa Laskar Jihad itu adalah organisasi bentukkan pemerintah Indonesia yang merupakan kaki tangan Amerika, sehingga mereka pun menganggap kami ini musuh dan kami di anggap sebagai intel atau istilah bahasa arabnya jasus. Dan itu sempat di publikasikan di kalangan muslimin Poso pada tahun. 2001. Sempat pula ketika saya datang ke Poso tahun. 2001 itu, saya di pertemukan oleh beberapa komponen masyarakat Poso, dengan saudara Adnan Arsal yakni di rumah salah seorang warga di Poso, dan pertemuan itu tidak berhasil karena Adnan Arsal meninggalkan tempat pertemuan dengan marah dan membanting kertas meniggalkan pertemuan dengan caci makian terhadap saya.

Penyebabnya apa Adnan Arsal bisa sampai mencaci maki Ustadz ?

Ustadz : Karena Adnan dalam pertemuan itu melontarkan tuduhan-tuduhan bahwa kami Laskar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah hanya bisa ngomong, bahwa kami di simpulkan oleh Adnan Arsal adalah “gerombolan orang-orang yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk kaum muslimin” . Berbagai kesimpulan itu kami jawab dengan ketawa, maka Adnan Arsal bangkit dengan marah dan meninggalkan pertemuan itu.

Siapa Adnan Arsal ini ? dia adalah orang yang di bawah pengaruh Abu Bakr Ba’asyir, yaitu merupakan link-nya organisasi yang kemudian di bentuk setelah itu bernama Majlis Mujahidin Indonesia yang Abu Bakr Ba’asyir adalah pimpinannya. Hal yang sangat menonjol kami lihat di lapangan bahwa mereka di Ambon dan di Poso selalu melakukan doktrinasi kepada anak-anak muslimin bahwa “kalau bertempur itu tidak dalam rangka mendirikan Negara Islam maka itu tidak di namakan Jihad, meskipun dalam rangka membela kaum muslimin” maka kalau bertempur membela kaum muslimin tidak dalam kerangka perjuangan mereka, tidaklah di namakan jihad dan mereka merasa perjuangan mereka sajalah yang dapat di katakan jihad. Itu yang di munculkan di lapangan oleh guru-guru yang di kirim dari Ngruki dan guru-guru di bawah pengaruh Abu Bakr Ba’asyir, inilah awalnya yang kami lihat. Dan ternyata setelah itu kami melihat perkembangan yang sangat berbahaya yaitu tampaknya mereka di belakang hari, bukan seperti yang mereka selalu tampilkan di publik, bahwa mereka datang ke Poso dalam rangka solidaritas terhadap kaum muslimin di Poso, ternyata mereka adalah memang sedang mencari satu wilayah di Indonesia ini untuk di jadikan sebagai alternatif markas gerakan Jama’ah Islamiyah (selanjutnya JI) yang telah di bentuk oleh Abdullah Sungkar dan Abu Bakr Ba’asyir ini. Guna menjadi markas alternatif di wilayah Asia Tenggara setelah markas Abu Sayyaf di Mindanau di hancurkan oleh tentara Filiphina. Sehingga mereka sangat berkepentingan untuk mencari wilayah yang tidak bisa di jangkau oleh hukum di Indonesia.

Mereka itu siapa ?

Ustadz : Mereka adalah generasi awal dari murid-muridnya Abu Bakr Ba’asyir ini, yang mendampingi Abu Bakr Ba’asyir dan Abdullah sungkar ketika di tempat pengasingan di Johor Baru Malaysia, ketika keduanya lari dari Indonesia di masa pemerintahan Soeharto. Dan mereka sesungguhnya generasi pertama ini adalah salah satu kelompok dari pada gerakan yang di namakan Negara Islam Indonesia (selanjutnya NII), sempat waktu itu mereka menjadi komponen dari NII, namun karena pertentangan di antara mereka dengan kelompok lain di NII itu, akhirnya mereka keluar dari NII membentuk sendiri kelompok yang di namakan JI, nah ini terjadi pada tahun. 1992.

Ketika Abdullah Sungkar dan Abu Bakr Ba’asyir di pecat oleh Ajengan Masduki dari kedudukannya sebagai menteri luar negeri dan wakil menteri luar negeri NII. Dan pemecatan itu berbuntut dengan adanya gerakan mereka untuk melawan pemecatan tersebut dengan membentuk organisasi baru yang di namakan JI. Mereka terinspirasi membentuk JI adalah karena mengenal seorang tokoh bernama DR. Umar Abdurrahman dari Mesir, DR Umar Abdurrahman ini membentukan kelompok namanya Al Jama’ah Al Islamiyah dan sempat melakukan peledakan bom di New York waktu itu dan DR. Umar Abdurrahman ini sempat di tangkap di sana.

Dr. Umar Abdurrahman ini cukup produktif dalam menulis buku untuk menyatakan keyakinannya. Buku-buku DR. Umar Abdurrahman ini yang di konsumsi oleh Abu Bakr Ba’asyir, Abdullah Sungkar dan anak buah mereka dan juga dengan itu mereka membentuk JI yang mempunyai afiliasi ideologis dengan Al Jama’ah Al Islamiyah bentukan DR. Umar Abdurrahman. Ini gerakan sesungguhnya yang asalnya menyempal dari NII dan kemudian merekapun akhirnya berkenalan dengan Usamah Bin Ladin.

Sesungguhnya perkenalan mereka dengan Usamah Bin Ladin ketika serunya jihad di Afghanistan melawan Uni Soviet waktu itu adalah semata-mata karena urusan dana, karena Usamah Bin Ladin kaya yakni punya dana besar. Namun rupanya hubungan itu berkembang lebih lanjut sehingga Usamah Bin Ladin membentuk Al Qaidah yakni satu organisasi perjuangan yang di biayai dan di pimpin oleh dia sendiri. Dan kemudian setelah itu orang-orang yang di didik oleh Abu Bakr Ba’asyir dan Abdullah Sungkar ini di kirim ke Afghanistan untuk mendapatkan pendidikan ideologis dari orang-orangnya Usamah Bin Ladin. Kemudian dari situ mereka pun mendapatkan doktrin-doktrin takfiri dari orang-orangnya Usamah Bin Ladin di Aghanistan.

Takfiri yakni merupakan salah satu daripada cabang pemahaman sesat khowarij, dimana pemahaman ini menganggap bahwa orang Islam yang tidak sejalan dengan paham perjuangannya di vonis kafir keluar dari Islam atau di vonis sebagai musuh Islam, dan kalau sudah di vonis begitu maka halal darahnya. Maka pemahaman inilah yang di bawa oleh Usamah Bin Ladin di Yaman, Sudan, di Afghanistan, di Pakistan dan kemudian di bawa oleh Abu Bakr Ba’asyir dan Abdullah Sungkar ke Indonesia atau ke Asia Tenggara meliputi Malaysia, Filiphina dan Indonesia, juga di kembangkan di dalam pengajian-pengajian mereka.

Pemahaman ini mengatakan bahwa orang yang tidak sejalan dengan jalan pikiran mereka itu kafir dengan cara menilai orang itu sebagai kaki tangan musuh atau sebagai intel sehingga kalau sudah di vonis demikian maka konsekuensinya halal darahnya, harta dan kehormatannya yakni dalam artian boleh di tumpahkan darahnya, boleh di rampas hartanya dan boleh di lecehkan kohormatannya. Sedemikian jahatnya pemahaman ini dan pemahaman inilah yang mendasari orang-orang di Poso itu kemudian melakukan berbagai bentuk kekacauan.

Kalau dikatakan oleh Sidney Jones bahwa kerusuhan di Poso itu adalah karena dendam umat Islam, dan kerusahan itu akan padam bila korban di pihak umat Islam itu sudah sebanding banyaknya dengan korban orang-orang Kristen, maka ini adalah analisa provokatif, sok tau, sesungguhnya tidak demikian. Mereka datang ke Poso dan kemudian datang ke Ambon itu sesungguhnya bukan karena solidaritas mereka sesama muslimin atau membela kaum muslimin akan tetapi dalam rangka menjalankan misi perjuangan Hizb (kelompoknya) dan ini yang di istilahkan dalam agama sebagai Hizbiyyah. Kemudian misi daripada perjuangan ini adalah mencari markas komando bagi gerakan tersebut, yang mempunyai tujuan dan target pergerakkan ini ialah berdirinya negara Islam di Indonesia menurut PEMAHAMAN MEREKA.

Maka mereka menilai bahwa pemerintah Indonesia ini adalah pemerintah kafir dan perangkat pemerintahnya itu kuffar, dan aparat TNI maupun POLRI itu adalah orang-orang kafir yang harus di perangi dan ini merupakan konsekuensi logis daripada pemahaman tersebut. Sehingga ketika mereka melakukan berbagai pengacauan-pengacauan itu kepentingannya adalah satu yakni bagaimana untuk menciptakan kondisi anarkhis, kondisi rusuh sehingga dengan kondisi rusuh itu Poso tidak terjangkau oleh hukum dan akibatnya itu akan memberi peluang bagi mereka untuk membangun markas komando di sana. Jadi kerusuhan di Poso itu memang di kehendaki dan terus menerus dipancing untuk menciptakan kondisi yang tidak terjangkau oleh hukum, itulah yang mereka mau.

Hal ini yang pernah mereka upayakan di Ambon, mereka memancing-mancing kerusuhan dengan cara menyerang desa-desa Kristen, sampai pernah di pulau Seram itu mereka menyerang salah satu desa Kristen disana, ternyata di jaga oleh aparat BRIMOB sehingga di seranglah aparat BRIMOB itu, dari aparat BRIMOB itu tiga muslim dan dua kristen semuanya tewas dan dari pihak mereka satu orang yang tewas. Ternyata setelah beberapa manuver yang mereka lakukan di Maluku itu tidak berhasil, yakni untuk menjadikan Maluku rusuh, di samping kondisi geografis yang tidak mendukung untuk itu -yakni terdiri dari pulau-pulau- . Dan ini menyulitkan mobilisasi, juga sangat memudahkan bagi aparat untuk mengepung dan menangkap mereka. Akhirnya mereka pindah ke Poso mereka berupaya untuk memancing kerusuhan di Poso, dan tujuan mereka adalah bagaimana mengkondisikan Poso seperti kerusuhan jilid ke tiga dulu, tidak terjangkau oleh hukum sehingga bisa menjadi markas gerakan, berhubung kondisi geografis Poso yang sangat luas dan tentunya lebih sulit bagi aparat untuk mengcover seluruh wilayah daratan tersebut, itu sesungguhnya tujuannya.

Maka hal ini pernah juga di upayakan langsung dari Usamah Bin Ladin, dia pernah mengirim orangnya ke Ambon di dampingi oleh anak buahnya Abu Bakr Ba’asyir pada akhir tahun. 2000 dan itu belum terbentuk MMI (Majlis Mujahidin Indonesia). Waktu itu seorang bernama Abu Abdil Aziz Bahadziq, orang ini paspornya Saudi, dia tangan kanannya Usamah Bin Ladin, datang ke Ambon di dampingi anak buahnya Abu Bakr Ba’asyir untuk menemui saya, dan mengajak untuk kerja sama. Saya waktu itu tidak bertemu dengannya berhubung saya masih di Jogjakarta, maka ketika Abu Abdil Aziz ini datang ke kantor kami di Kebun Cengkeh Ambon, saya di telepon oleh orang saya di sana dan saya perintahkan untuk mengusir Abu Abdil Aziz, anak buah saya katakan “Loh.. ini orang mau kerja sama dan ngasih bantuan dana bagi perjuangan kita” , maka saya bilang “Usir dia !!! kalau kau tidak mau mengusir dia, saya yang akan mengusir kamu !!” dan akhirnya di usir. Maka setelah kami usir dari kantor kami, mereka membikin suatu kegiatan pesantren kilat di salah satu desa di do Pulau Seram, dimana Abu Abdil Aziz sebagai pematerinya, dan isi kajiannya ialah tentang pemahaman takfiriyah yang mengkafirkan semua orang yang di luar komunitas gerakannya, termasuk saya yang divonis kafir oleh mereka. Karena itu tampaknya mereka dulu ingin menjadikan Ambon sebagai markas gerakan, akan tetapi upaya yang mereka lakukan itu gagal, dan akhirnya mereka pindah ke Poso dan terus di Poso ini memancing-mancing kerusuhan di Poso.

Juga tidak logis tuntutan mereka, ketika adanya 29 DPO yang buron ini, mereka membela 29 DPO itu dan untuk membela 29 DPO itu yang di jadikan bemper ialah kaum muslimin di Poso umumnya, khususnya kaum muslimin di Gebang Rejo dan tuntutannya tidak logis mereka mengatakan “kenapa kami kok mau ditangkap sedangkan 16 tokoh yang di sebutkan Tibo kok ga di tangkap” . Jadi permasalahannya bagaimana mengalihkan aparat ini dan mengalihkan publik dari permasalahan yang sesungguhnya kepada permasalahan lain. Tentu kita sangat menganjurkan dan sangat menekankan kepada pemerintah untuk menelusuri kasus 16 tokoh yang di sebutkan Tibo, sebagai otak gerakan kerusuhan yang harus di usut untuk di seret kepada ketentuan hukum. Namun permasalahan 29 orang ini, apakah kemudian tidak boleh di sentuh sama sekali kalau belum mengurus 16 orang ini, ini tidak logis sama sekali.

Akhirnya demi untuk membela 29 orang itu, terjadilah pertumpahan darah dan pertempuran dengan aparat dan juga menunjukkan bukti pemahaman sesat mereka itu ketika terjadinya pertempuran aparat dengan mereka di Gebang Rejo – Poso, ternyata MMI menyerukan jihad di Poso. Kita pertanyakan Jihad melawan siapa !!?!? apakah bertempur melawan aparat kepolisian itu jihad menurut Islam !!??.

Kalau menurut Islam jihad bertempur itu melawan musuh Islam, maka kita pertanyakan apakah aparat kepolisian yang mayoritas muslim itu musuh Islam? dan telah divonis oleh mereka sebagai musuh Islam??. Kalau mereka katakan “iya” nah berarti inilah salah satu bukti bentuk pemahaman takfiriyah yang ada pada mereka yang cenderung mengkafirkan orang yang tidak sejalan dengan pemikiran mereka.

Seruan itu setelah ada kejadian tanggal 22 januari 2007?

Ustadz : Tidak ! mereka menyerukan jihad, maka kita pertanyakan jihad melawan siapa?? Apakah jihad bertempur melawan aparat kepolisian?? Di mana anda ini ?? apakah di negara kuffar atau di negara muslimin?? Kalau mereka mengatakan negara kuffar maka ini menunjukkan mereka mempunyai bentuk pemahaman sesat takfiriyah. Ini adalah negara muslimin, mayoritas muslimin, pejabat-pejabatnya mayoritas muslimin, aparatnya mayoritas muslimin, kalau di perangi berarti jihad !!?? kalau mereka katakan “Yaa” berarti memang itulah bentuk pemahaman sesat mereka.

Pemahaman sesat mereka berikut nya ialah seperti yang di tuangkan oleh Imam Samudra dalam bukunya “Aku Melawan Teroris”. Itu bukan saja pemahaman Imam samudra tetapi pemahaman keumuman mereka demikian yang di doktrinkan oleh Abu Bakr Ba’asyir dan CS nya. Yaitu bahwa dalam pandangan mereka yang telah di tuangkan dalam bukunya Imam Samudra itu “di zaman ini semua orang non Islam adalah kafir harbi”. Maksudnya kafir harbi ini ialah orang kafir yang harus di perangi dan di perlakukan sebagai musuh, harus di tumpahkan darahnya, di rampas hartanya dan tidak mempunyai hak untuk di jaga kehormatannya. Perlu kita ingat bahwa dalam Syari’ah Islamiyah kekafiran itu di klasifikasikan menjadi tiga jenis:

Yang pertama , Kafir Harbi yaitu orang kafir yang menyatakan perang terhadap Islam atau muslimin secara demonstratif karena alasan agama. Kafir harbi tidak mempunyai hak hidup, harus di perangi sampai dia mau tunduk pada hukum Islam.

Yang Kedua , Kafir Dzimmi yaitu orang kafir yang siap berdampingan damai dengan kaum muslimin, dan tunduk kepada hukum berlaku dalam negara Islam itu. Maka kafir jenis ini mempunyai hak terhadap perlindungan darah, harta dan kehormatannya.

Ketiga , Kafir Mu’ahhad yaitu orang kafir dari negara asing yang masuk ke wilayah Islam dengan perlindungan dari pemerintah. Karena pemerintah membutuhkan keahliannya demi kemaslahatan umum bagi kaum muslimin, seperti perdagangan atau investasi dan semisalnya. Maka orang kafir jenis ini selama di wilayah negara Islam itu, dia mendapatkan perlindungan hukum terhadap darah, harta dan kehormatannya.

Demikian klasifikasi orang kafir dalam pandangan Islam, namun kata Imam Samudra bahwa semua orang kafir yang ada sekarang ini sama di kategorikan oleh dia sebagai kafir harbi yakni harus di perangi dan halal darah, harta juga kehormatannya. Inilah pemahaman sesat mereka, sehingga akibatnya mereka di doktrin untuk melakukan serangan-serangan terhadap orang kuffar yang tidak mempunyai keterkaitan langsung dengan permusuhan terhadap Islam dan muslimin, seperti yang pernah terjadi sebelumnya yakni siswi SMA di mutilasi dan bom di ledakkan di tempat umum. Yang namanya bom itu tentunya tidak mempunyai mata dan telinga untuk memilih siapa yang sesungguhnya pantas untuk di bunuh dan siapa yang tidak pantas. Nah ini semua di lakukan karena dasar pandang yang sesat dan menyesatkan itu.

Ok.. kalau kita kembali lagi ke Poso, mereka kan datang pasca konflik waktu itu, Ustadz tadi sempat katakan juga bahwa ini kaitannya dengan Abu Bakr Ba’asyir. Sekarang pertanyaannya apa yang mengkaitkan “orang-orang” di sana punya hubungan yang erat dengan Abu Bakr Ba’asyir ?

Yaa.. bukti yang jelas Abu Bakr Ba’asyir menyatakan bahwa kondisi Poso sekarang ini –maksudnya sebelum di umumkan DPO 29 itu- dalam pidatonya bahwa beliau sangat senang dengan meningkatnya semangat jihad di Poso dan menganjurkan untuk di jaga semangat ini agar jangan luntur, ini anjuran beliau dan terus menerus di kirim orang-orang beliau untuk berangkat ke sana guna mengajarkan kepada masyarakat pemahaman takfiriyah tersebut. Ini jelas bukti-bukti yang menunjukkan bahwa beliau sangat menyetujui, sangat menganjurkan dan sangat mengobarkan untuk keadaan itu terus demikian, kalau bisa meningkat.


Sejauh mana Ustadz yakin bahwa mereka itu memang orang-orang Abu Bakr Ba’asyir dari Ngruki atau dari Solo ?

Ustadz : Kami ketika di sana melihat bahwa aktor berbagai kerusuhan dan pemahaman-pemahaman sesat ini dari tempat markas mereka yaitu Tanah Runtuh, dan kami kenal orang-orang yang bergerak di sana dan memimpin gerakan pemahaman sesat itu adalah orang-orang dari murid-muridnya Abu Bakr Ba’asyir dari Ngruki, juga dari Malaysia waktu itu ketika mengikuti beliau di Malaysia, kami ketahui orang-orang tersebut.

Artinya Ustadz kenal secara personal ?

Ustadz : Yaa.. kenal secara personal tentang orang-orang tersebut. Bahwa ini adalah angkatan lama yang dulu tinggal di Malaysia dan juga alumnus dari Ngruki.

Terkait dengan JI, ini kan ada beberapa pendapat, kalau dari pendapat Abu Bakr Ba’asyir sendiri menampik keberadaan JI di Poso, sepengetahuan Ustadz tentang JI yang ada di Poso itu bagaimana ?

Ustadz : Semua gerakan yang yang di lakukan oleh Abu Bakr Ba’asyir pasca pembentukkan JI tahun. 1992, sampai sekarang itu sesungguhnya inti gerakan nya itu ialah dari JI –yakni inti kekuatannya-. Dan tokoh-tokoh terasnya terlibat dengan kegiatan JI tersebut. Termasuk orang-orang yang memimpin MMI sekarang ini adalah orang-orang yang dulunya ikut Abu Bakr Ba’asyir dan Abdullah Sungkar untuk membentuk JI di Johor Baru, juga termasuk yang di Poso.

Kemudian setelah konflik selesai antara komunitas Kristen dan Muslimin di Poso, ada semacam pola pengiriman orang-orang dari Jawa yakni dari Solo, Ngruki.. bisa Ustadz ceritakan ?

Ustadz : Pengiriman orang-orang ke sana kita lihat sejak awal kita di sana tahun. 2001., kita menyaksikan demikian. Sampai ketika kita datang lagi ke Poso pada tanggal 11 Desember 2006 s/d 04 Januari 2007, kita masih melihat orang-orang mereka berdatangan dari Jawa, dan masih saja mereka mendengungkan pemahaman-pemahaman takfiriyah. Sampai sempat juga ketika kami di sana terkahir antara 11 Desember 2006 s/d 04 Januari 2007 itu kami mendapatkan dari masyarakat adanya fatwa haram untuk mengucapkan salam terhadap aparat kepolisian. Karena aparat kepolisian di anggap sebagai musuh Islam, fatwa yang demikian ini di sebarkan oleh mereka dari masjid ke masjid dan juga dari halaqoh ke halaqoh.

Seberapa banyak, orang-orang yang di kirim kesana ?

Ustadz : Yaa kalau dalam seminggu itu di kirim satu-dua orang, tentunya dalam bertahun-tahun yaa sudah banyak.

Dan Ustadz melihat itu terorganisir ? apa indikasinya ?

Ustadz : Yaa tentunya, dengan adanya amir dan dengan adanya bai’at kepada amir. Jadi ketika datang langsung ke Tanah Runtuh kemudian ada koordinasi untudi tempatkan di berbagai wilayah di Poso itu.

Dan semua itu atas perintah atau pimpinan dari Abu bakr Ba’asyir ?

Ustadz : Yaa..

Kemudian setelah kejadian kemarin yang menewaskan beberapa DPO, ada semacam statement juga dari Ustadz Ja’far terkait dengan aktifitas mereka. Ada tuduhan yang di tujukan kepada Ustadz, mereka berpandangan bahwa Ustadz Ja’far adalah alat pemerintah dan Pro-Polisi yang seharusnya membela kaum muslimin di Poso, bagaimana tanggapan Ustadz mengenai Hal ini ?

Ustadz : Tuduhan kalau saya itu alat pemerintah itu bukan sekarang tapi sudah sejak dulu. Yakni sejak pembentukkan Laskar Jihad tahun. 2000 lalu kami sudah di tuduh sebagai alat pemerintah. Jadi bukan sekarang saja mereka menuduh kami!. Sejak dulu hingga sekarang saya tidak pernah setuju dengan pemahaman-pemahaman mereka itu. Termasuk menganggap polisi itu sebagai musuh Islam untuk kemudian memeranginya. Dan juga saya dalam hal ini sejak dulu menganggap bahwa penempatan polisi atau brimob di suatu tempat jangan karena pertimbangan pro dan kontra publik, akan tetapi berdasarkan pertimbangan perhitungan pertahanan dan keamanan. Sebab jika berdasarkan pertimbangan subyektifitas publik, maka kalau ada demo harus di tarik.. maka di tarik, kalau ada demo harus di datangkan.. maka datangkan, waduh bisa kacau betul negeri ini.

Sesungguhnya saya lakukan ini semua adalah karena keprihatinan saya terhadap nasib kaum muslimin di Poso, saya melihat kaum muslimin di Poso mau di korbankan untuk kepentingan hizb atau golongan mereka ini. Maka tentu saya tidak terima dengan kenyataan ini, yang membikin kerusuhan dan membikin kekacauan-kekacauan itu adalah mereka tetapi kaum muslimin semuanya di Poso yang menanggung akibat perbuatan mereka.

Kami dua puluh hari lebih di Poso kemarin, sejak 11 Desember 2006 s/d 04 Januari 2007 duduk dengan masyarakat di Poso, mereka rata-rata menyatakan keresahan tentang tingkah laku orang-orang di Tanah Runtuh yakni orang-orangnya Abu Bakr Ba’asyir, bahwa orang-orang ini begitu arogannya, dan mereka kaum muslimin takut serta merasa tidak terlindungi oleh aparat dari teror yang di lakukan oleh group Tanah Runtuh ini.

Kalau sampai aparat tidak bertindak kemarin itu, sungguh saya sangat kuatir akan meledak kerusuhan antar golongan di Poso sebagai penolakan mereka atau sebagai puncak keresahan mereka dari terror yang di lakukan orang-orang di Tanah Runtuh ini, tapi Walhamdulillaah segera aparat bertindak dan Alhamdulillaah darah masyarakat lebih terjaga dan lebih terselamatkan dan kondisi terror terhadap kaum muslimin Poso pun akan bisa lebih di tahan.

Mungkin baru sekarang ya Ustadz mengkaitkan kerusuhan di Poso dengan pihak Abu Bakr Ba’asyir ?

Ustadz : Yaa.. karena saya melihat kalau ada kerusuhan di suatu daerah, saya selalu memberi nasehat kepada pemerintah supaya pemerintah yang maju, agar pemerintah yang bertindak dan menjalankan tanggung jawabnya, dan saya selalu memberi kesempatan kepada pemerintah untuk bertindak. Akan tetapi saya melihat setelah sekian lama, kok kelihatannya aparat ini di pengaruhi oleh retorika kedustaan yang di buat Abu Bakr Ba’asyr dan Cs nya, dengan permainan pembentukkan opini publik yang demikian kejam, saya melihat bahwa ini sangat merugikan masyarakat muslimin Poso, dan sempat juga saya melihat fenomena yang berbahaya bahwa segala aspirasi group Tanah Runtuh ini di atas namakan kaum muslimin seluruhnya di Poso, padahal tidak demikian kenyataannya di lapangan. Maka dengan itu saya sudah tidak tahan lagi sehingga mendorong saya untuk berbicara.

Saya mengupayakan supaya lebih terarah dan lebih fokus pembahasan masalah Poso ini, jangan lari kesana kemari kepada pihak ini dan pihak itu, padahal sesungguhnya pihak yang menjadi dalang kerusuhan itu telah jelas, kenapa kok lari kesana kemari sehingga akhirnya sangat bias sistem penanganannya. Itu sangat memprihatinkan dan mengharuskan saya untuk berbicara.

Sekarang kan ada semacam anggapan juga, bahwa ini adalah isu yang di gulirkan untuk menumpas kaum muslimin, sebagaimana yang di lancarkan Amerika mengenai isu terorisme. Ustadz sepakat dengan hal ini ?


Ustadz
: Kalau Amerika memang mempunyai tujuan untuk menumpas kaum muslimin, yang demikian itu jelas bahwa Bush sendiri menegaskan perang terorisme yang dia gaungkan itu adalah dalam rangka perang salib, meskipun dia mencabut pernyataannya, tetapi itulah memang suara aslinya. Namun, kalau pemerintah Indonesia apakah juga dikatakan menumpas muslimin?

Bagaimana kalau pemerintah Indonesia merupakan kepanjangan tangan dari Amerika?

Ustadz : Mereka pejabat-pejabat di pemerintahan ini mayoritas muslimin, apa yang menjadi bukti bahwa orang-orang muslimin ini adalah kaki tangan orang kafir, atau bisa di katakan sebagai orang-orang kafir demi menjalankan misi orang kafir untuk menumpas kaum muslimin. Ini adalah perkara sangat krusial dan sangat berbahaya kalau kita hanya berdasarkan isu-isu politik saja.

Perlu di ingat bahwa hukum asal muslimin itu adalah saudara “sesama mu’min itu bersaudara” kata Allah, apakah mu’min yang ada di tubuh pemerintahan, apakah mu’min yang ada di kalangan rakyat jelata, semua itu saudara. Untuk kemudian dari hukum asal ini berpindah bahwa mereka bukan saudara lagi akan tetapi telah menjadi kaki tangan orang kafir untuk menumpas kaum muslimin, ini perlu pembuktian yang pasti jangan hanya berdasarkan isu politik saja.

Jadi kalau isu ekonomi dan segala macam itu bagaimana tanggapan Ustadz ?

Ustadz : Itu semua cuma mengada-ngada, untuk mengalihkan perhatian dari permasalahan yang sesungguhnya.

Kalau begitu Ustadz bisa ceritakan keterkaitan tokoh yang bernama Hasanudin kemudian Abu Bakr Ba’asyir dan DPO-DPO yang sebelumnya tertembak?

Ustadz : Mereka semua Hasanudin dan orang-orang DPO itu adalah orang-orang binaan Abu Bakr Ba’asyir, sebagian mereka juga di kirim ke Afghanistan. Untuk di kirim ke Afghanistan, maka harus dari Indonesia berangkat ke Johor Baru dulu, untuk kemudian bai’at kepada Abu Bakr Ba’asyir dan Abdullah Sungkar dan setelah itu berangkat ke Afghanistan. Sepulang dari Afghanistan harus di bawah kendali Amir yang telah di bai’at tersebut, Hasanudin termasuk orang yang telah bai’at kepada Abu Bakr Ba’asyir dan Abdullah Sungkar itu dan dia di tempatkan di Poso, juga dengan koordinasi dari Amir sampai menikah dengan anaknya Adnan Arsal. Demikian pula orang-orang dalam DPO ini yakni binaan Abu Bakr Ba’asyir.

Ada juga keyakinan bahwa yang melakukan kriminalitas ini adalah sempalan dari JI, dengan kata lain ini memang dari JI akan tetapi tanpa perintah dari Abu Bakr Ba’asyir sebagai Amir.

Ustadz : Saya tidak yakin analisa seperti itu, karena untuk di katakan demikian tentu ada reaksi dari Abu Bakr Ba’asyir dan dalam hal ini Abu Bakr Ba’asyir melakukan pembiaran terhadap berbagai gerakan-gerakan tersebut. Saya melihat bahwa Abu Bakr Ba’asyir berusaha mengayomi berbagai kelompok dalam tubuh anak buahnya itu. Ada kelompok yang memang tetap ingin menjalankan misi Al Qaidah yaitu serangan-serangan terhadap penguasa, ada kelompok yang lebih banyak di dominasi oleh permainan dan manuver politik melalui MMI dan sebagainya, itu semua merujuk kepada Abu Bakr Ba’asyir.

Apa yang Ustadz himbaukan kepada pemerintah terkait dengan adanya Abu Bakr Ba’asyir dan MMI-nya, dan kemudian apa yang akan Ustadz sampaikan kepada Abu Bakr Ba’asyir dan groupnya.

Ustadz : Saya menasehatkan kepada saudara Abu Bakr Ba’asyir dan groupnya, hendaknya kalian takut dari kebiasaan berdusta mempermainkan nama kaum muslimin bahkan mempermainkan darah kaum muslimin. Wallahi perjuangan kalian yang di bangun di atas kedustaan ini tidak akan di berkahi oleh Allah, apalagi perjuangan kalian ini sampai pada tingkat menghalalkan darah kaum muslimin. Maka bertaubatlah kalian dari perbuatan dan tindakan kalian ini. Kembalilah kepada Al Qur’an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafush Shalih yakni pendahulu kita yang shalih dari kalangan Shahabat Nabi, Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in untuk supaya kalian jangan bersikap ghuluw yakni ekstrim semacam ini.

Adapun kepada pemerintah, maka saya menganjurkan untuk lebih mempertimbangkan kemaslahatan bangsa dan negara, kemaslahatan rakyat banyak. Dan jangan terpengaruh oleh retorika politik bohong para tokoh-tokoh ini yang mempermainkan publik opini dalam menyikapi gerakan-gerakan yang di lakukan oleh Abu Bakr Ba’asyir dan CSnya ataupun gerakan-gerakan lainnya. Tetaplah mempertimbangkan kemaslahatan masyarakat banyak, mempertimbangkan kepentingan umum dan ini tugas dari pada negara.

Pernyataan Al Ustadz Ja’far Umar Thalib mencocoki dengan apa yang di ungkapkan Basri baru-baru ini (setelah wawancara)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s