Diaspora tuan Yahudi

Studi baru-baru ini telah menemukan bahwa asal-usul suku Afridi Pathan di sebuah kota kecil bernama Uttar Pradesh berasal dari ‘suku hilang’ Israel yang sesuai dengan Bibel. Namun suku Pathan tidak bersedia menerima diri mereka sebagai Yahudi. Malihabad, sebuah kota kecil yang terkenal akan buah-buahannya, di daerah pinggiran Lucknow, akan menarik perhatian Anda. Tempat yang mahsyur dengan buah mangga Dussheri yang manis dan harum itu telah melahirkan beberapa syair Urdu dan Persia terindah. Dan pernyataan tersebut tak berakhir di situ. Kota berdebu itu kini dianggap memiliki sesuatu yang dapat ditelusuri hingga masa Bibel. Di antara penduduk Malihabad terdapat sebuah suku berperawakan tinggi, berkulit kuning langsat, dan bertubuh tegap, yang menyebut diri mereka sebagai penyair dan prajurit Afridi Pathan. Selain itu, sebuah panah raksasa yang terletak di gerbang masuk kota didedikasikan untuk Bab-e-Goya, seorang penyair dan prajurit terkenal. Namun bukti-bukti yang berkembang menyiratkan bahwa leluhur mereka bukanlah Muslim tapi Israel dan mereka sebenarnya bukan berasal dari wilayah Afghanistan-Pakistan tapi ternyata merupakan salah satu ‘suku hilang’ Israel. Di Malihabad, di jantung kota Uttar Pradesh, mereka sangat menonjol dengan ciri-ciri fisik mereka yang unik.

Kini sebuah studi yang dilakukan oleh salah satu anggota suku mereka sendiri, Navras Jaat Aafreedi, yang dipublikasikan baru-baru ini dalam bentuk e-book berjudul “The Indian Jewry & The Self-Professed ‘Lost Tribes of Israel’ in India”, menelusuri garis silsilah mereka hingga ke salah satu ‘suku hilang’ Israel. Navras mengatakan, “Tujuan utama penelitian ini (untuk gelar doktor dari Universitas Lucknow) adalah untuk menelusuri leluhur suku Afridi Pathan.” Untuk membuat studinya lebih kredibel, ia mendapat bantuan dari tim peneliti internasional termasuk Profesor Tudor Parfitt, direktur Centre of Jewish Studies di Universitas London, dan Dr Yulia Egorova, seorang ahli bahasa dan sejarah dari Rusia. Tim tersebut mengunjungi Malihabad dan mengumpulkan sampel DNA dari 50 pria Afridi yang tidak memiliki hubungan secara paternal, guna memperkuat informasi mengenai silsilah Israel mereka. Para peneliti mempelajari hubungan Israel dengan Pathan di beberapa daerah perbatasan Pakistan serta kaitannya dengan Afridi Pathan di Malihabad, Uttar Pradesh, dan Qaimganj (Farrukhabad), juga dengan suku Pathan di Aligarh, Sambhal, dan Barabanki, di samping suku-suku di Kashmir, Manipur, dan Guntur di Andhra Pradesh.

Para sejarawan dan ilmuwan seperti Profesor S.N. Sinha (mantan kepala departemen sejarah di Universitas Jamia Millia Islamia), dan Profesor V.D. Pandey (kepala departemen sejarah India zaman modern dan pertengahan di Universitas Lucknow), menyatakan bahwa penelitian Navras menjadi studi ‘yang penting’ mengenai Yahudi di India dan hubungannya dengan Uttar Pradesh. Menurut Bibel, terdapat 12 suku Israel. Kerajaan utara terdiri dari 10 suku yang dibuang dan kemudian dianggap ‘hilang’. Empat dari ‘suku hilang’ tersebut telah ditemukan di India: Afridi, Shinlung di Timur Laut, Yudu di Kashmir, dan suku non-Muslim di Guntur. Para sejarawan percaya bahwa Afghan adalah keturunan Israel – nama lain cucu Ibrahim, Jacob atau Yakub. Mereka datang ke wilayah yang dikenal sebagai Perbatasan Barat Laut dan Afghanistan; dan setelah pindah mereka dipanggil Afridan, dalam bahasa Persia berarti ‘baru tiba’ dan karena itu memperoleh sebutan ‘Afridi’. Banyak dari Afridi-Afghan masih mengikuti tradisi Yahudi seperti Sabbath dan khitanan pada hari ke-8 kelahiran bayi. “Ada 3 kelompok utama Israel atau Yahudi di India: Bene Israel (kelompok tebesar), Cochini (kelompok terkecil), dan Baghdadi. Pathan di Malihabad dan Farrukhabad menyebut diri mereka sebagai Bani Israel, yang berarti Anak-anak Israel (Children of Israel). Suku-suku Bani Israel juga ditemukan di Aligarh dan Sambhal, Moradabad.

Perkampungan Pathan-Afridi di Malihabad telah ada sejak tahun 1202, ketika desa Bakhtiarnagar didirikan oleh Mohammad Bakhtiar Khilji. Sebagian besar suku Pathan datang pada sekitar pertengahan abad 17 dan semua suku migran mengambil kepemilikan atas desa-desa di sekitar Malihabad. Namun, gelombang terbesar migran Pathan, terutama Afridi, tiba di Malihabad satu abad kemudian saat terjadi lima invasi Ahmad Shah Abdali antara tahun 1748 dan 1761. Banyak Israel-Afridi di Malihabad dan Qaimganj memperoleh kedudukan terkemuka di bidang peperangan, politik, literatur, dan olah raga. Jika Dr. Zakir Husain, seorang Israel-Pathan, Presiden India ke-3 dan pendiri Universitas Jamia Millia Islamia berasal dari Farrukhabad, Malihabad bangga memiliki Nawab Faqueer Mohammad Khan ‘Goya’ (penyair dan anggota istana Awadh yang kemudian pindah ke Pakistan), Ghaus Mohammad Khan (pemain tenis), dan Anwar Nadeem (artis, penulis, dan penyair).

Terdapat sekitar 1200 sampai 1300 suku Pathan di Malihabad, dan setengah dari mereka, menurut penelitian terbaru, adalah Israel-Afridi. Penelitian tersebut telah menimbulkan kegemparan di antara Afridi Pathan karena mereka tidak bersedia mengakui identitas ke-Yahudian mereka. Tidak seperti suku-suku lainnya yang telah bersedia menyatakan pertalian mereka dengan ‘suku hilang’ Israel, Afridi Pathan bersikap tdiak percaya tentang status ke-Yahudi-annya. Kengganan ini terbukti ketika Qavi Kamal Khan (91 tahun), salah satu anggota suku Afridi Pathan di kota, mengatakan, “Saya telah mendengar bahwa kami memiliki garis silsilah Israel, tapi kami bukan Yahudi. Kami adalah Afridi.” Namun, para sejarawan mempercayai penelitian Navras dapat menjadi tonggak penting dalam penelitian sejarah-genealogis yang berangkat dari Lucknow yang tak dikenal, untuk menemukan kembali pertalian yang hilang dalam perjalanan waktu. Studi tersebut, sekali lagi, membuktikan bahwa dunia ini ternyata adalah desa global.

Pada sekitar tahun 722 Sebelum Masehi, karena perang sipil Israel dan untuk kepentingan strategi, Assyria mendeportasi 10 suku Israel ke timur, menuju Persia (Iran). Seratus tahun kemudian, Babylonia mendeportasi suku yang tersisa, Yehudah dan Benjaminities, ke Babylon (Iraq). Yehudah kembali ke Israel dengan bantuan Cyrus Agung dari Persia, sementara 10 suku yang lain tak pernah kembali. Pencarian “10 Suku Israel” (Ten Tribes of Israel) adalah isu yang sangat kontroversial karena keturunan mereka kehilangan sebagian besar tradisi Israel dan tak memiliki Talmud (Oral Torah serupa dengan Hadits dalam Islam). Mungkin titik fokus yang menjauhkan upaya pencarian saudara-saudara Israel adalah perang sipil Israel setelah kekuasaan King Solomon, perang yang mempertemukan Yehudah (Judah) dengan suku-suku lainnya dan pada akhirnya mengakibatkan keruntuhan mereka secara kolektif. Karena itu, keturunan-keturunan ‘Suku Hilang’ tinggal dan tersebar di wilayah timur Israel yang kini dikenal sebagai Iran, Afghanistan, Pakistan, Kashmir, India, Burma, dan bahkan China sebelah barat.

Pakhtun telah tinggal di wilayah Afghanistan selama lebih dari 2000 tahun. Bahasa mereka, Pashto/Pakhto, banyak mengambil dari tetangga mereka yang ter-Arab-kan, Persia (kini Iran), bahkan bahasa tersebut merupakan dialek yang diucapkan secara murni. Tidak ada tulisan Pakhto/Pashto, buku pertama Pashto muncul sekitar tahun 1500-an. Karena itu, tradisi, adat-istiadat, silsilah kesukuan, dan hukum, diwariskan secara oral dari ayah kepada anaknya. Buku pertama mengenai silsilah Pakhtun, Makhzan-al-Afghani, ditulis pada tahun 1613, dan untuk pertama kalinya memuat tabel silsilah dari Ibrahim hingga suku Pakhtun, melewati suku Binyamin. Meski buku tersebut tidak diakui oleh sejarawan Inggris, namun para sejarawan modern menganggapnya sebagai keterangan paling akurat dibandingkan teori lain yang diajukan oleh sejarawan klasik.

Membahas Zionisme (Zionism) juga cukup menarik…istilah “Zionis” (Zionist) berasal dari pegunungan Yerushalim (mountains of Yerushalim) yang disebut “Zion”. Ini serupa dengan bahasa orang-orang Pathan yang disebut Pashto (penggunanya menyebut diri mereka Pashtun) dari istilah Persia “Pasht” yang berarti “punggung gunung” (back of the mountain), jadi Pashtun adalah seseorang yang tinggal di pegunungan. Pegunungan yang ditinggali Pathan setelah mengalami pembuangan disebut pegunungan Suleiman (Solomon). Yahudi/B’Ni Israel di Rusia juga menyebut dirinya Mountain Jews (Yahudi Pegunungan) dan dianggap berasal dari suku terbuang yang sama.

Istilah Pathan adalah bentuk asli kata Pathan—yang tertulis dalam bahasa Pashto—dalam DTorah (Divrei Hayomin/Kings 2), perhatikan leluhur mereka dari garis Sarul ben Qish, raja pertama Israel, yang merupakan mertua Raja David.

Saya menulis sebuah buku setelah melakukan penelitian selama 5 tahun, namun belum dicetak. Artikel di bawah ini merupakan beberapa bab dalam naskah penelitian saya:

Fisiologi
Ciri-ciri Fisik Yahudi
Data-data mengenai Yahudi telah dikumpulkan dari banyak sumber dan mungkin data tersebut sudah sangat dikenal secara antropologis. Sebagian besar peneliti lebih suka menyimpulkan bahwa Yahudi merupakan salah satu jenis ras manusia yang paling bertahan.[1] Sebagian peneliti lainnya mengatakan bahwa tipe Yahudi berbeda-beda di setiap tempat, bentuk kepalanya menyesuaikan diri dengan keanekaragaman bentuk kepala secara lokal. Tanpa sadar mereka telah menerima ciri fisik orang-orang di tempat pembuangan mereka secara luas. Boas bahkan telah menegaskan bahwa bentuk kepala orang Yahudi yang bermigrasi ke Amerika Serikat berubah sesuai dengan standar orang Amerika, bahkan sejak generasi imigran yang pertama; efek fisik dari penahanan di pulau Ellis tampaknya memiliki akibat permanen terhadap populasi imigran Yahudi. Deniker membagi Yahudi ke dalam 2 tipe, yang pertama tipe Arab dan yang kedua tipe Assyroid. Ia mengakui bahwa kedua tipe tersebut telah dimodifikasi hingga tingkat tertentu oleh beberapa elemen penduduk di mana mereka tinggal, tapi ia menambahkan, “Bahkan dalam kasus ini, banyak ciri-ciri seperti hidung cembung, sorot mata, frekuensi crythrism, rambut keriting, bibir bawah yang tebal, lingkaran dada yang kecil, dan lain-lain, memperlihatkan ketahanan yang luar biasa.”

Kedua pandangan tersebut kemudian saling bertentangan, dan beberapa rekonsiliasi akan diperlukan jika bukti-bukti yang ada dapat ditafsirkan dengan cara yang sama sekali berbeda dari keduanya. Tak ada bukti yang muncul untuk mendukung hipotesis Profesor Boas yang menarik itu, dan telah ditentang oleh pihak lain. Bukti-bukti dari beberapa penulis belakangan ini menegaskan keseimbangan dan pentingnya indeks tengkorak (cephalic index), tanpa perlu menjadikannya sebagai bukti keabsahan seperti yang dilakukan oleh ciri-ciri lainnya. Dengan beberapa pengecualian, Yahudi dari beragam wilayah dunia biasanya mempertahankan karakteristik bentuk tengkorak Brach, itu berarti indeks tengkoraknya adalah 81. Studi tersebut memiliki simpangan baku (standard deviation) antara 3 dan 4. Hal ini menyiratkan bahwa ras tersebut cenderung tetap dalam keseimbangan etnik semula (state of ethnic equilibrium), meski mereka berada dalam kondisi lingkungan yang berbeda. Dalam banyak kasus, Yahudi tak hanya mempertahankan bentuk kepala mereka, tapi juga menjaga karakter lainnya yang telah disebutkan oleh Deniker di atas, yang paling nyata adalah bentuk hidung. Untuk beberapa alasan, Yahudi mampu mempertahankan ciri fisik yang dimilikinya dengan kekuatan luar biasa, setidaknya di banyak tempat yang didiami. Asal-usul tipe ini muncul karena kepentingan tertentu. Sudah diketahui umum bahwa terdapat kemiripan antara Yahudi dan orang Armenia, dan meski tipe Armenoid mempengaruhi secara umum, jelas ada elemen lain dalam komposisi ras Yahudi. Weissenberg menyimpulkan bahwa kemiripan Yahudi dan orang Armenia disebabkan oleh percampuran pada masa lampau, di Kaukasus bukan di Palestina. Ia menyimpulkan bahwa di sini tipe Nordic berambut pirang dimasukkan, walhasil muncul kesimpulan bahwa kini ada 2 tipe Yahudi, Semitik berkulit gelap dengan hidung runcing dan Armenoid dengan hidung lurus dan berambut pirang.

Bentuk badan yang disebutkan tersebut menyiratkan bahwa 2 tipe Yahudi itu benar-benar melebur bersama karena campuran yang berbeda. Sepertinya percampuran tersebut juga terjadi di antara Yahudi dan menghasilkan indeks yang melambangkan bentuk badan hasil percampuran.

Ciri-ciri Fisik Pakhtun: Opini Para Sejarawan
Secara ras, terdapat perbedaan antara beragam suku-suku Afghan. Pathan di Bajaur sangat bertalian dengan Kalash di Citral, mungkin karena mereka adalah Dard yang ter-Afghan-kan secara luas.[2] Di lain pihak, Pathan yang berkepala lebar di Balochistan menyerupai tetangga-tetangga Baluch mereka. Di dataran Peshawar, terdapat beberapa campuran darah India, dan di antara suku Ghilzai di Afghanistan terdapat jejak pengaruh Turkish. Tapi secara umum, bisa dikatakan bahwa Afghan termasuk ke dalam cabang ras dolichochepalic Mediteranian Irano-Afghan.[3] Indeks tengkoraknya adalah 72-75, dan tinggi rata-rata 170 cm (suku perbukitan, Pathan) dan 163 cm (Afghan di Afghanistan). Hidungnya menonjol, sering kali cembung, ini adalah tipe “Semitik”. Hidung yang serupa juga ditemukan di antara Balochis dan Kashmiris. “Afghan biasanya adalah orang-orang brunet (berambut hitam), tapi pada saat yang sama juga memperlihatkan minoritas berambut pirang yang kuat, yang mungkin merefleksikan beberapa campuran Nordic. Mereka berjanggut lebat.”[4]

Sebuah buku yang ditulis oleh Dr. Azmat Hayat Khan baru-baru ini menyimpulkan karakteristik-karakteristik fisik: “Pathan di perbukitan biasanya bertubuh tinggi, berkulit halus, dan memiliki corak kulit gading.”[5]

Kashmir berada di bawah kendali Kerajaan Durrani Afghan di tahun 1800-an, dan mayoritas populasi di sana merupakan suku Yousufzai Pakhtun yang pindah dari Peshawar menuju arah timur. Mereka tinggal di Pakistan dalam jumlah besar, sekitar 600.000 keluarga yang kemudian ditundukkan secara paksa oleh para Sikh selama hampir 40 tahun.[6]

Dr. Bernier, seorang penjelajah Prancis, di perbatasan perkampungan Kashmir sekitar tahun 1880-an menyatakan tentang kemiripan fisik yang mencolok antara suku-suku lokal dengan Yahudi.[7] Ia mencatat bahwa ekspresi dan perilaku mereka dapat dibedakan dari penduduk lain di tanah ini. Di akhir, ia menambahkan bahwa, “Anda akan menganggap ucapan saya tak lebih dari khayalan belaka, pembawaan Yahudi pada para penduduk ini telah diberitahukan oleh Bapak kita, Jesuit, dan beberapa suku Eropa jauh sebelum saya mengunjungi Kashmir.”

Jesuit yang dimaksud oleh Dr. Bernier adalah Dr. Joseph Wolff yang mengatakan, “Saya sangat terkejut dengan kemiripan Youssoufszye (putra Joseph) dan Khyberi, dua dari suku mereka, dengan Yahudi.”[8] Moorcroft juga berkata mengenai Khyberi, “Mereka tinggi, dan yang istimewa memiliki ciri-ciri Yahudi…mereka menamai dirinya sendiri sebagai Beni Israel, anak-anak Israel dari zaman dulu.”

Bernier juga merujuk pada George Forster yang mengatakan, “Saat pertama kali melihat Kashmirian di negara mereka sendiri, saya membayangkan dari pakaian mereka, roman muka yang panjang dan seram, serta bentuk janggut mereka, solah-olah saya datang ke sebuah negeri Yahudi.”[9]

Kolonel G. Malleson dari Tentara Inggris tidak yakin bahwa Afghan adalah Beni Israel, namun ia berkomentar mengenai isu ciri-ciri fisik, “Ini tentu saja berpengaruh.”[10]

Ciri-ciri Fisik Pakhtun: Tradisi Oral
Melalui tradisi histori mereka, diketahui bahwa suku Pakhtun adalah keturunan suku Israel, Benyamin, khususnya dari anak-anak Raja Saul. Ini menjelaskan tinggi badan mereka yang tak wajar, yang bukan karakteristik Yahudi timur tengah. Raja Saul dikenal dalam al-Quran sebagai “Talut”, yang berarti “Tinggi” (tall) dalam bahasa Arab. Dalam Torah, khususnya dalam Book of 1 Samuel, Saul digambarkan sebagai pria tampan dan memiliki tinggi badan yang tak biasa. Dalam konteks ini, suku Pakhtun adalah salah satu penduduk bertubuh tinggi di wilayah tersebut dan dikenal oleh Mahatma Gandhi (India) sebagai “raksasa pegunungan” (mountain giants). Lord Curzon, viceroy (penguasa di wilayah jajahan) Inggris di India berkomentar tentang mereka:

“Saya mengetahui orang-orang ini. Mereka berani seperti singa, liar seperti kucing, patuh seperti anak-anak…Seseorang bangga menerima penghormatan jujur dari Samson raksasa yang hebat, berjanggut, loyal, dan sering ternoda oleh kejahatan ini.”[11]

Ciri-ciri Pakhtun [Pathan] yang berpotongan dan berpenampilan bagus adalah sesuatu yang lazim[12], sebagaimana dapat disamakan dengan leluhur mereka, King Saul of Israel.

Karakteristik Emosional Pakhtun: Sejarah Israel
Kekuasaan Saul sebagai raja pertama Beni Israel ditandai oleh tekanan relijius, dan para sejarawan Israel berkomentar tentang ketaatan Saul yang kuat pada perintah agama, sebagai contoh dalam kasus Jonathan dan batu altar Aijalon, dan dalam melukiskan dirinya ketika dimasuki oleh ruh Jahweh.[13] Dalam kampanyenya, ia mengajak seorang pendeta yang ahli menggunakan ephod, dan tidak pernah lupa berkonsultasi padanya. Sebuah cerita tradisi mengatakan bahwa ia melarang orang-orang yang berkonsultasi pada ruh keluarga dan orang mati.[14] Jika ia mengutuk praktek-praktek ini, jangan menyangka bahwa ia menganggap praktek tersebut salah; sebaliknya, itu karena ia menganggap ruh orang mati dan ruh elohim sebagai rival Jahweh, Tuhan Israel yang tunggal.

Karakter relijius Saul tercermin pada suku Pakhtun, yang melahirkan Taliban, bekas rezim Afghanistan yang sangat dikutuk karena interpretasi mereka yang ‘ekstrim’ terhadap Islam.

Banyak sejarawan telah menegaskan kembali bahwa Pakhtun tak mungkin bersatu. Mereka memiliki banyak sub-klan dan terus-menerus saling bermusuhan. Hanya ancaman musuh bersama yang dapat mempersatukan mereka.[15] Ini adalah keterangan langsung mengenai suku-suku Beni Israel yang bersatu di bawah King Saul demi memerangi musuh bersama, Philistine. Yahudi Israel masa kini menuliskan dengan ucapan mereka sendiri, “Orang-orang Israel sudah sejak lama bergurau bahwa jalan paling mudah untuk menghancurkan negara tersebut adalah ketika negara-negara Arab memutuskan perdamaian. Dengan begitu ketegangan dalam masyarakat Israel dapat memecah-belahnya.”[16]

Karakteristik Emosional Pakhtun: Opini Sejarawan
Seorang tentara Inggris menyimpulkan perilaku emosi Pakhtun:

“Meski ia meninggalkan negeri asalnya, ia masih akan membawa kebiasaan sikapnya. Ia akan turun-temurun, seorang pemberani yang kelihatan seperti bajingan dengan sikap terbuka dan jujur, seperti ciri-ciri Yahudi… Ia memang dekil dan mungkin compang-camping, tapi ia akan berjalan memasuki Viceregal durbar (Royal court/pengadilan kerajaan) dengan perasaan bangga seperti Lucifer dan dengan suasana dan sikap diplomatis mungkin akan merasa iri hati. Sama sekali tidak seperti penduduk India lainnya.”[17]

Bukti-bukti Genetik:
Raja-raja Israel menikahi wanita-wanita asing non-Israel. David menikahi Bathsheba, sementara putranya, Solomon, menikahi Queen of Sheeba, putri Firaun. Ahab menikahi Jezebel, putri King of Tyre.[18] Setelah pembuangan dan penyebaran suku-suku Israel, mereka yang tak dapat kembali ke tanah asal mulai menikahi wanita lokal setelah mengubah wanita-wanita tersebut menjadi Yahudi. Karena itu, keturunan mereka sebagian menyerupai Hebrew dan sebagian mirip penduduk tetangga mereka. Mungkin inilah alasan mengapa terdapat variasi di antara suku-suku Pakhtun, yang secara moral dan fisik dapat dibedakan satu sama lain, meskipun sebagian besar dari mereka berjanggut lebat dan berhidung cembung “Semitik”.

Sebuah studi yang dilakukan di University College, London, pada tahun 2002 mengenai uji genetik terhadap Yahudi di seluruh dunia. Hasilnya dipublikasikan di surat kabar-surat kabar, berikut kesimpulannya.

DNA pria berawal di Timur Tengah, sedangkan DNA mitochondrial wanita tampak mengindikasikan asal diaspora lokal. Secara sederhana, sebagian besar Yahudi menikahi wanita-wanita di negeri tempat mereka tinggal setelah dibuang dari Israel sekitar 2.500 tahun lalu. Ini menjelaskan mengapa komunitas Yahudi kini mirip dengan penduduk lokal dimana mereka tinggal. Para ilmuwan menggambarkan hasil tersebut sebagai sesuatu yang ‘sangat penting’.[19]

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di American Journal of Human Genetics dengan jelas menyatakan bahwa jika dibandingkan dengan data dari penduduk lain yang berada di wilayah tersebut, Yahudi lebih bertalian erat dengan kelompok-kelompok di utara Fertile Crescent (Kurdi, Turki, Armenia) dari pada dengan tetangga Arab mereka.[20] Beberapa Afghan dan Pathan sangat mirip dengan orang-orang yang disebutkan di atas, karena mereka juga menyerupai Yahudi. Melalui uji genetik secara ekstensif, suku Lemba di Ethiopia dinyatakan memiliki gen cabang Levi (suku Priest), Cohen. Namun, mereka menyerupai orang-orang Afrika yang telah tinggal selama 2.000 tahun terakhir.[21]

Semakin jauh lokasi suku-suku Israel dari Israel, semakin banyak dari mereka yang melakukan pernikahan dengan wanita luar suku. Teori-teori ini kini menjawab teka-teki sejak zaman dahulu mengenai orang-orang Israel yang menyerupai penduduk lokal di negeri tempat tinggal mereka, bahkan setelah melewati satu generasi. Sekarang ini, uji genetik pada orang-orang suku Pakhtun belum dilakukan, karena kurangnya pengetahuan dan sumber. Ini bisa menjadi cara terbaik untuk memberi kesimpulan akhir tentang persoalan tersebut.

Referensi
[1] L. H. Dudley Buxton, History of Civilization- Peoples of Asia, (New York: 1996), Routledge, pg. 96
[2] B. S. Guha, Census of India, 1931, i, iii A, p. xi
[3] Coon, Races of Europe, p 419
[4] Coon, Races of Europe, p 420
[5] Dr. Azmat Hayat Khan, The Durand Line-it’s Geo Strategic Importance, (Islamabad: Area Study Centre, University of Peshawar, 2000) p. 31
[6] William Jesse, History of the Afghans, (Lahore: Sang-e-Meel Publications, 2002) p. 8. An English translation of the French Caravan Journeys by General J. P. Ferrier (1st Regiment of Chasseurs D’Afrique, 1845).
[7] François Bernier “Travels in the Moghul Empire” (Constable, London, 1891, Pg. 930-932).
[8] Rev. Joseph Wolff, D.D. LL.D, Narrative of a Mission to Bokhara in the years 1843-1845, (John W. Parker, London, 1845). Vol. 1 2nd Edition. P. 17.
[9] George Forster, Letters on a journey from Bengal to England. (Faulder, London, 1808) (Vol. II, page 20).
[10] History of Afghanistan by Colonel G. Malleson, C.S.I. (W.H. Allen & Co, London, at the India Office, 1878), p 39.
[11] Ekhnath Easwaran, Badshah Khan, (New Delhi: Penguin Books, 2001) p 64.
[12] Dr. Azmat Hayat Khan, The Durand Line-it’s Geo Strategic Importance, (Islamabad: Area Study Centre, University of Peshawar, 2000) p. 31
[13] Adolphe Lods, Israel: From its Beginnings to the middle of the 7th Century, (Wiltshire UK: Routledge, 1996)
[14]1 Sam. xxviii. 3, 9
[15] Dr. Azmat Hayat Khan, The Durand Line-it’s Geo Strategic Importance, (Islamabad: Area Study Centre, University of Peshawar, 2000) p. 34
[16] Christopher Dickey and Daniel Klaidman, How will Israel Survive, Newsweek (New York: April 1,2002) p 16.
[17] Oliver, Across the frontier, Pathan and Baluch (London: Champman and Hall Ltd., 1890) p 224.
[18] Amos i. 9
[19] Judy Siegel-Itzkovich. “Dad was out and about, while Mom stayed home.”Jerusalem Post (June 16, 2002): 9.
[20] Almut Nebel, Dvora Filon, Bernd Brinkmann, Partha P. Majumder, Marina Faerman, and Ariella Oppenheim. The Y Chromosome Pool of Jews as Part of the Genetic Landscape of the Middle East, The American Journal of Human Genetics 69:5 (November 2001), p 1095-1112.
[21] Israel, The Historical Atlas (New York: Macmillan, 1996) p 111.

Adat-Istiadat Israel
Generalisasi mengenai suku-suku Pakhtun dan karakteristik mereka tampaknya menyesatkan karena suku-suku yang beraneka ragam tinggal di bawah kondisi berbeda-beda dan karena itu agak berbeda satu sama lain dalam hal adat-istiadat dan kebiasaan. Namun mereka semua setuju pada teori “Beni Israel” sebagaimana pertama kali diajukan dalam Makhzan-al-Afghani tahun 1613. Mereka semua berbicara dengan bahasa yang sama (Pushto/Pakhto), mempraktekkan agama yang sama (Islam), memiliki hukum Pashtoonwali yang sama, dan terkenal akan kecintaan mereka pada kebebasan dan keberanian. Para pembaca tak boleh lupa bahwa adat-istiadat Israel hanya ditemukan pada beberapa suku, paling jelas terlihat pada Yousufzai (bahasa Pakhto untuk putra-putra Yusuf).

Karena para sejarawan telah menyebut beberapa suku Pakhtun sebagai keturunan “10 suku hilang” Israel, kita memerlukan sebuah korelasi antara adat-istiadat Pakhtun masa kini dengan adat-istiadat Beni Israel sebelum tahun 722 SM, saat suku-suku Israel pertama kali dideportasi oleh bangsa Assyrian. Karena itu, hakim terbaik (yang paling mengetahu-pen) tentang adat-istiadat “Israel” adalah Yahudi (Yehudi) yang pernah tinggal berdampingan dengan Pakhtun selama ratusan tahun, sebelum mereka beremigrasi ke Israel.

Opini Yahudi Afghan di Israel
Amishav Foundation didirikan di Israel oleh Rabbi Eliahu Avihail, tujuan utamanya adalah memperkenalkan kembali komunitas-komunitas Beni Israel yang lama terisolasi kepada mainstream Judaisme kerabbian. Selama tahun 1980-an, orang-orang Avihail mulai memeriksa peta bumi dalam rangka mencari sisa-sisa Yahudi. Pada tahun 1994, Amishav membawa 57 anggota komunitas Beni Israel di Manipur (perbatasan Burma/Myanmar-India) menuju perkampungan West Bank (Tepi Barat) di Kiriat Arba, Hebron (Al-Khalil).

Sejak pendirian Israel tahun 1948, sekitar 4.123 Yahudi Afghan (yang mempraktekkan ajaran Yahudi) bermigrasi ke Israel.[1] Kini hampir semua Yahudi yang tersisa tinggal di dekat sinagog di Charshi Torabazein Street, Kabul, Afghanistan.

Pada sekitar akhir tahun 1970-an, Eliahu Avihail mewawancarai Yisrael Mishal, mantan Presiden komunitas Yahudi Afghan di Afulah, Israel. Mishal memberikan contoh berupa pertemuannya dengan Pathan yang tinggal di perbatasan Afghanistan-Pakistan.[2]

Ia mengatakan bahwa orang-orang Pathan mengidentifikasi dirinya sendiri dengan bekas nama mereka ‘sons of Israel’ (Beni Israel), meski sekarang mereka hidup sebagai Muslim. Konon, di Afghanistan mereka berjumlah 6 hingga 7 juta orang, dan di Pakistan berjumlah 7 hingga 8 juta orang. Dua juta dari mereka hidup sebagai Badui (Bedouin). Kelihatannya, Pathan serupa dengan Yahudi.

Dari adat-istiadat kuno mereka, kita dapat melihat hubungan antara Pathan dan orang-orang Yahudi. Mereka mencapai setengah populasi di Afghanistan, di wilayah yang kini merupakan provinsi NWFP, dan sebagian provinsi Balochistan di Pakistan. Lebih dari 90% penduduknya merupakan Muslim Sunni. Di rumah mereka yang turun-temurun di Pegunungan Suleman (Suleman Mountains), Pathan masih tetap hidup dalam kerangka kesukuan sebagaimana nenek moyang mereka. Sistem hukum berjalan berdasarkan “Pasthunwali”, hukum tak tertulis Pasthun, sebagian isinya serupa dengan hukum Torah.

Inggris, yang lama menguasai Afghanistan, menemui kesulitan untuk membedakan Pathan dan Yahudi, dan memanggil Pathan sebagai ‘Juz’ – Jews. Yahudi juga menemui kesulitan dalam membedakan dirinya sendiri dengan Pathan jika orang-orang Pathan tidak sedang mengenakan pakaian tradisionalnya. Afghanistan memiliki sekitar 21 suku dan bahasa, dan hanya Pathan, selain Yahudi, yang jelas terlihat Semitik; warna kulit mereka lebih terang dibanding suku lainnya, hidung mereka melengkung dengan tipe Semitik. Karena sebagian besar dari mereka menumbuhkan janggut dan cambang (side-locks) seperti orang Yahudi, hal ini juga menambah kesulitan dalam upaya membedakan mereka dan Yahudi.

Meskipun Pathan menerima Islam secara sukarela, mereka mempertahankan adat-istiadat Yahudi yang dijaga dari kemunduran di masa lalu. Buku tersebut di atas memuat bukti-bukti yang dapat dipertimbangkan yang diambil dari Yahudi Afghanistan yang tinggal di dekat suku Pathan dan sering berhubungan dengan mereka. Bukti-bukti itu tidak berkaitan dengan semua Pathan atau semua suku dan tempat. Namun, itu membuktikan eksistensi adat-istiadat Yahudi pada suku Pathan:

Adat Istiadat:

* Cambang (Payos): Cambang tak pernah dicukur.

* Pengkhitanan anak laki-laki: Dilakukan pada hari ke-8 (setelah kelahiran-pen).

* Talith (syal/selendang untuk beribadah): Dikenakan sebagai sebagai syal dan digunakan sebagai tikar untuk ibadah.

* Pernikahan Yahudi (Hupah dan cincin): Tirai (canopy) pernikahan di bawah tempat duduk pengantin laki-laki. Beberapa Pathan tinggal dengan ayah dari pengantin wanita, seperti yang dilakukan nabi Jacob.

* Adat-istiadat wanita (mencelupkan diri di sungai atau mata air): Ini masih tetap dilakukan oleh suku-suku yang tinggal di pegunungan.

* Pernikahan Levirate (Yibum): Kewajiban bagi Pathan untuk menikahi janda yang ditinggalkan saudaranya dan menopang keluarga besarnya.

* Menghormati ayah: Anak laki-laki berdiri ketika ayahnya datang.

* Makanan yang dilarang (kuda dan unta): Ketika sebagian besar Muslim mengorbankan unta pada saat Idul Adha, Pathan tak pernah melakukannya, dan hanya mengorbankan sapi atau kambing.

* Menahan diri dari memasak daging dan susu: Menurut laporan tradisi ini diikuti oleh beberapa suku Pathan.

* Tradisi mengenai unggas bersih dan tidak bersih, juga dikenal sebagai halal/haram pada umat Islam.

* Shabbat: persiapan 12 potong roti Hallah, menyalakan sebuah lilin untuk menghormati Shabbat, menahan diri dari bekerja pada hari Sabtu.

* Berdoa/beribadah pada Day of Atonement/Hari Penebusan dosa (Yom Kippur): Al-Kitab mengatakan bahwa beberapa dari mereka berdoa/beribadah sambil mengarah ke Jerusalem.

* Darah pada treshold dan pada dua Mezzuzot (saat terjadi wabah penyakit atau menghadapi masalah): adat ini terus dilakukan hingga rumah suku Pathan dibangun, darah pengorbanan hewan dioleskan pada pintu atau gerbang rumah.

* Korban: saat terjadi wabah penyakit, seekor kambing dilepaskan keluar kota karena dianggap akan membawa pergi penyakit itu. Ini adalah adat Israel kuno.

* Menyembuhkan orang sakit dengan bantuan Kitab Zabut/Mazmur dengan menempatkan kitab tersebut di bawah kepala pasien.

* Jimat Hebrew (Kamia): Tradisi ini berlanjut pada sebagian besar suku Pathan.

* Adat Tefillin: Mengenakan sebuah boks atau kantong yang memuat ayat Shema Israel, yakni, “Dengarlah wahai Israel: Tuhan kita adalah Tuhan yang satu!” (Deuteronomy 6:4). Adat Tefillin ini berasal dari ayat Kitab Injil, “Kau dapat mengikat mereka sebagai sebuah tanda pada tanganmu, dan mereka bisa menjadi frontlet (penghalang bagian depan-pen) di antara matamu” (Deuteronomy 6:8). Kantung tersebut biasanya ditempatkan di sekitar wilayah dada/jantung.

* Nama-nama Hebrew: Pathan sering menggunakan nama Davud (David), Yousuf (Joseph), Yaqub (Jacob), Suleman (Solomon), Moosa (Moses) sebagai nama dan suku mereka, dan rumah turun-temurun suku mereka adalah Pegunungan Suleman (Solomon) di Pakistan.

* Kitab Suci: Mereka menghormati Torah, Law of Moses. Suku-suku Pathan seperti Yousufzai memiliki bukti historis bahwa mereka memiliki Torah[3], hingga kitab suci tersebut diambil paksa atau secara sukarela oleh Yahudi Persia dan pengikut Zoroaster (Zoroastrian).

Aturan pembalasan dendam/code of revenge (badal) dalam undang-undang Pasthunwali berasal dari hukum “mata dibalas dengan mata, gigi dibalas dengan gigi” (An eye for an eye, a tooth for a tooth) dalam Torah Musa. Orang Amerika sering mengucapkan, “Tak ada yang bisa lari dari kematian dan pajak”, sementara Pathan mengatakan, “Kematian dan pembalasan dendam – selalu dan selamanya.”[4]

Simbol “Bintang David” ditemukan pada hampir sebagian besar rumah, bis, sekolah, peralatan, dan ornamen di kota Pathan, Peshawar (Pakistan). Orang-orang Pathan yang kaya membuatnya dari logam yang mahal; sementara orang miskin membuatnya dari kayu sederhana.

Baru-baru ini, Shalwa Weil dari Israel menyelesaikan risetnya mengenai komunitas Yahudi Afghan-Pathan di Israel dan kemudian mempublikasikan penemuannya pada Jerusalem Post [5], di bawah ini petikannya.

Pada tahun 1935, seorang tukang cukur Yahudi, Gabriel Barukhoff, melakukan perjalanan ke Kabul dan menemukan orang-orang suku Afghan Pathan yang mengklaim bahwa mereka adalah keturunan Children of Israel. Di awal tahun 1950-an, Gabriel berkata pada presiden kedua Israel, Yitzhak Ben-Zvi (yang meneliti buku Barukhoff berjudul “The Exiled and the Redeemed”), bahwa orang-orang suku itu mengenakan sulaman lampu Hanukkah pada punggung mereka. Ia mendengar bahwa mereka memiliki Mezuzot pada pintu rumah mereka, mengenakan syal untuk ibadah, dan menyalakan lilin pada malam Jumat. Ketika Barukhoff mencukur rambut mereka, mereka bersikeras untuk mempertahankan cambang (side curl).

Seorang Yahudi Afghan dari Herat, Abraham Benjamin, melapor pada Ben-Zvi bahwa, “Menurut tradisi sekarang pada suku-suku Afridi (salah satu sub-suku Pathan), mereka adalah keturunan Israel, khususnya, putra-putra Ephraim. Mereka menumbuhkan janggut; orang-orang berusia tua pada suku tersebut tidak menyembunyikan fakta bahwa mereka keturunan Yahudi, tapi belakangan generasi muda menyembunyikan fakta ini yang, jika tersingkap, akan membuat mereka menjadi pihak paling tidak populer dalam kondisi politik sekarang di negara itu.” Diskusi ini terjadi pada tahun 1951, karena itu, pendirian negara Israel di tahun 1948 telah mendorong mereka menyembunyikan sejarah kuno mereka secara aktif, karena suku Pathan sekarang ini adalah Muslim.

Di tahun 1990-an, Shalwa mewawancarai para pelajar Pathan di Universitas New Delhi, kelompok anti-Zionis paling keras yang pernah ia temui, yang dengan berat hati mengakui bahwa mereka adalah Beni Israel. “Tapi itu tak ada kaitannya dengan negara Israel modern,” jawab mereka kepada Shalwa.

Code of hospitality (aturan tata krama terhadap tamu) zaman kuno milik suku Pathan, Pukhtunwali—bahwa kemurahan dan perlindungan terhadap tamu adalah sesuatu yang terpenting—adalah bukti cukup mengenai kaitan mereka dengan Yahudi, meskipun tata krama terhadap tamu juga merupakan sifat Muslim.

Seperti Israel di zaman lampau, pembalasan dendam (badal) adalah salah satu kekuatan pengendali dalam masyarakat Pathan. Jika diserang, atau kebanggaan mereka dilukai, suku Pathan akan berjihad memerangi para penyerang. Mereka berhasil melakukannya terhadap Inggris di abad 19. Mereka melawan Komunis di akhir abad 20; dan mereka masih memerangi koalisi Amerika di milenium sekarang.

Refoel Berlzonf mewawancarai seorang imigran Yahudi Afghan, Yated Ne’eman, mengenai praktik-praktik keagamaan di komunitasnya di Afghanistan.[6] Ia mengatakan bahwa sebelum adanya larangan oleh Taliban, Yahudi duduk dan mempelajari Torah setiap hari setelah selesai bekerja. Seorang rabbi di komunitas Afghan di Israel mengatakan pada Yated bahwa raja (raja Afghanistan-pen) pernah menyatakan bahwa mereka memiliki tradisi yang berasal dari keturunan Yahudi. Meski berada dalam pengasingannya di Roma, Zahir Shah (raja Afghanistan) menjaga hubungannya dengan Yahudi dari komunitas Afghan.

Refoel menceritakan sebuah insiden yang terjadi pada seorang pengunjung—yang mendatangi wilayah Afghan yang berpenghuni suku-suku Pathan—yang ditemani rekannya, seorang anak laki-laki ber-Payos (cambang/side burn). Ketika mereka melewati salah satu desa Pathan, pengunjung itu diserang oleh para anggota suku: “Mereka benar-benar ingin membunuh kami. Mereka pikir saya telah menculik rekan saya dari wilayah mereka. Setelah saya berhasil menenangkan mereka dan bertanya mengapa saya diserang, mereka menjelaskan bahwa saya pasti telah menculik anak itu, karena hanya anggota suku mereka yang memiliki kebiasaan menumbuhkan Payos sebab mereka adalah Beni Israel.”

Seorang rabbi komunitas Yahudi Afghan di Israel mengatakan pada Refoel bahwa “Tak ada seorang pun Yahudi murtad di antara seluruh Yahudi Afghan” yang bermigrasi ke Israel. “Ada beberapa orang yang memiliki ketidaktahuan, tapi tak ada satu pun yang tidak memiliki dasar-dasar keimanan, ahavas haTorah, menjalankan tefillin, dan bahkan beribadah 3 kali sehari. Kota Herat memiliki 4 sinagog yang selalu sesak. Jika seseorang absen meski satu kali Tefilloh saja dalam satu minggu, orang-orang akan mendatanginya untuk menjadi mevaker cholim, karena menganggap bahwa ia pasti sedang tidak sehat.”

Rabbi tersebut mengatakan bahwa ini adalah negara Yahudi di Israel “Hingga 30 tahun silam”.

“Raja Afghan pernah menjalani operasi mata di Prancis. Profesor yang mengoperasinya adalah seorang Yahudi. Setelah operasi, raja bertanya padanya berapa biaya operasi tersebut. Si profesor menjawab bahwa dirinya adalah seorang Yahudi, dan ia bertanya pada raja apakah di kerajaan Afghan terdapat Yahudi. Raja mengatakan bahwa memang ada Yahudi di sana. Si profesor meminta bayaran berikutnya atas operasi tersebut: bahwa setiap Yahudi di kerajaannya harus diberi kebabasan penuh untuk pindah ke Eretz Yisroel. Sang raja menyetujuinya. Dan itulah yang terjadi. Orang-orang Yahudi yang meninggalkan negara tersebut untuk pindah ke Eretz Yisroel diperbolehkan membawa serta harta benda mereka tanpa pembatasan. Setelah orang-orang Yahudi itu pergi, muncul sebuah revolusi dan perang berkobar di negara tersebut.”

Ne’eman mengatakan bahwa para pejabat Afghani berhubungan baik dengan Yahudi. Para pejabat menaruh sejumlah besar uang pada mereka tanpa meminta kwitansi atau promissory note. Yahudi juga berperan sebagai mediator dalam pertentangan antar non-Yahudi.

“Raja sendiri, yang melarikan diri dari revolusi tersebut dan hingga kini tinggal di Roma, sangat simpatik terhadap Yahudi. Penasehat pribadinya adalah seorang Yahudi yang dipanggil Yosef Siman Tov, yang berasal dari ibukota Kabul. Penasehatnya itu sering keluar masuk istana kerajaan. Setelah sang raja diasingkan, mereka masih mempertahankan hubungan mereka. Sang raja meyakinkan bahwa orang-orang Syiah takkan mengganggu Yahudi.”

“Orang-orang Afghan berusia tua yang hidup di desa-desa juga mengklaim bahwa mereka adalah keturunan Yahudi. Teori saya adalah bahwa di area tersebut terdapat hukuman/penyiksaan keagamaan dan mereka pindah agama menjadi Islam. Salah seorang teman saya, seorang saudagar besar yang berkeliling ke kota-kota, mengatakan bahwa ia dan rekannya menemukan banyak batu nisan dengan nama-nama Yahudi di pemakaman terpencil.”

Seorang saudagar Yahudi mengunjungi Afghanistan beberapa saat setelah Inggris memutuskan untuk memotong “pajak” reguler pada syeikh-syeikh lokal. “Satu hari yang indah kami merasakan kesunyian yang aneh di kota, dan itu ternyata sebenarnya merupakan kesunyian sebelum datangnya badai. Tiba-tiba kami mendengar gerombolan orang-orang suku sambil menaiki kuda dari area-area pegunungan bergemuruh memasuki kota lalu kota itu dengan cepat dibanjiri oleh mereka. Mereka adalah pejuang pemberani dan bertubuh tinggi, sementara polisi lokal hanya berlari ke semua arah. Para penyerang tersebut mengosongkan toko-toko dan rumah-rumah. Dalam waktu singkat, tempat tersebut benar-benar disapu bersih oleh mereka dan tak meninggalkan apapun. Mereka mengumpulkan barang rampasan itu seolah-olah mereka berada dalam ekspedisi penangkapan ikan tanpa menemukan satu lawan pun.”

Saat mereka mengangkat barang-barang rampasan, mereka melihat saya dan langsung menyadari bahwa saya adalah orang asing di tempat tersebut dan juga bukan Muslim. Mereka tidak melukai saya dan mulai mengajukan beberapa pertanyaan. Saya katakan pada mereka bahwa saya adalah saudagar Yahudi dari Persia dan mereka mengizinkan saya berbicara dengan pimpinan mereka, syeikh suku tersebut. Sang syeikh mengatakan hal berikut: ‘Kami mengetahui tentang leluhur Yahudi kami. Kami memiliki tradisi, yang diturunkan dari generasi ke generasi, bahwa kami berasal dari Yahudi dan hingga sebelum periode penaklukan Islam kami masih Yahudi sepenuhnya dan lalu dipaksa untuk memeluk Islam.’ Sang syeikh menambahkan bahwa 100 tahun sebelum Islam muncul di wilayah tersebut, sukunya diserang oleh para penyembah api, yang merampok semua barang milik mereka termasuk buku-buku kuno. Akibatnya, suku mereka menyerah kepada Islam secara relatif mudah, karena tradisi mereka sudah hilang kala itu.”

Setelah artikel di atas dipublikasikan oleh San Jose Mercury pada 23 Juni 1980, rakyat Amerika ditekan oleh lobi-lobi Yahudi dan Kristen untuk mengirim senjata dan pelatihan kepada pejuang pembebasan Pathan melalui Pakistan.

“Setiap Orang Yahudi Boleh Dibunuh”
Di museum ‘Darul Amman’ di Kabul (ibukota Afghanistan), terdapat batu hitam yang ditemukan di Kandahar, di atasnya tertulis kata-kata dalam bahasa Hebrew, “Kita akan dihadapkan pada ketakutan dan teror. Setiap orang Yahudi boleh dibunuh, dan setiap Muslim boleh hidup. Wednesday 4th Adar.” Informasi tentang tahunnya terputus.

Seorang imigran Yahudi dari Afghanistan mengatakan: “Suatu ketika saya pernah berjalan-jalan dengan keluarga saya di King’s Garden di Kabul. Sang raja sedang berjalan-jalan di sana. Ia memanggil kami lalu kami menghampirinya dan mencium tangannya, sebagai suatu kebiasaan. Raja bertanya pada saya tentang berapa lama Yahudi telah tinggal di Afghanistan. Saya tidak tahu harus menjawab apa. Ia mengatakan bahwa terdapat sebuah batu yang memuat informasi mengenai keberadaan Yahudi di sana selama 1540 tahun.”

Mantan Yahudi Afghan lainnya mengingat-ingat masa lalunya: “Ketika saya masih anak-anak, di kota Herat (Afghan), tersiar kabar bahwa King Emir Habib Allah Khan, ayah dari King Amman Allah Khan, akan datang berkeliling kota dengan menunggang kuda. Tokoh-tokoh Yahudi terkemuka di kota itu, termasuk almarhum ayah saya, seorang saudagar yang dihormati di daerah tersebut, mengadakan pertemuan dan memutuskan untuk mengadakan acara penyambutan bagi sang raja. Ayah juga mendorong saya untuk berpartisipasi dalam upacara penyambutan tersebut. Raja bertanya kepada orang-orang Yahudi dari suku mana mereka berasal. Ketua delegasi menjawab bahwa mereka tidak tahu, karena mereka tidak memiliki family tree (silsilah keluarga-pen). ‘Ehm, kita sebenarnya sudah tahu,’ raja merespon. ‘Kita berasal dari keluarga Muhammadzai. Kita semua berasal dari suku Benjamin, keturunan King Saul dari putra-putra Jonathan, Afghan dan Pathan.’ Raja meninggalkan rombongan delegasi tapi sebelumnya tidak menginstruksikan pembantunya untuk memberikan mantel dan topi kepada orang-orang Yahudi tersebut.

Ketua komunitas Yahudi Herat, almarhum Avrohom Hakohen, juga memberi kesaksian bahwa ketika masih muda dia pernah mendengar King Habib Allah menyatakan dirinya berasal dari suku Benjamin, dan bahwa suku-suku Afghan yang tinggal di pegunungan pernah berkata pada sang raja: “Kita telah mendengar dari para sesepuh kita bahwa kita berasal dari Yahudi.”

Pernyataan raja tersebut menyingkapkan asal-usul nama “Pathan”. Para anggota suku tersebut yakin bahwa mereka adalah keturunan Pison, cucu Yonoson (putra Shaul), yang disebutkan dalam Divrei Hayomim I (8:35).

Para anggota suku itu memiliki jimat yang tersembunyi dalam kotak perak, yang mereka rahasiakan dari setiap orang dan mereka sendiri dilarang untuk membukanya. Seorang pengunjung Yahudi yang mendatangi sebuah desa di wilayah Mengal melihat beberapa anak laki-laki berusia 3 sampai 5 tahun sedang berlari-lari sambil mengenakan jimat. Ia mengambil sebuah jimat dari salah satu seorang laki-laki, lalu membukanya dan menemukan dua kata yang tertulis dalam bahasa Ksav Ashuris (naskah Assyirian): Shema Yisroel. Hanya satu anggota suku yang mengetahui bagaimana menulis jimat, dan rahasia “frase” (chant) tersebut diturunkan dari ayah kepada putra tertuanya. Orang yang yang menulis jimat itu mengurung dirinya sendiri di sebuah ruangan dalam ruangan dan menulis “frase”. Karena jimat tersebut tertulis dalam naskah Assyrian, orang yang menuliskannya itu jelas tidak memahami artinya, tapi ia sambil penuh kekaguman menunjuknya sebagai simbol misterius.

Salah satu desa memiliki “guna-guna” (charm), buntelan yang selalu mereka letakkan di bawah kepala orang sakit. Seorang pengunjung Yahudi ingin melihat isi dari buntelan tersebut, tapi diperingatkan oleh penduduk lokal untuk tidak membukanya, jika ia melakukannya, ia akan mati. Ia diberitahu bahwa terdapat beberapa buntelan serupa di seluruh wilayah itu, namun semunya tak pernah dibuka oleh siapapun. Ia bertemu dengan seorang dukun wanita tua (menurut penduduk lokal, berusia “lebih dari 100 tahun”) dan sang dukun memperingatkannya untuk tidak membuka buntelan, karena “ia akan mati, dalam usia yang masih muda”. Namun ia tetap membukanya, dan ia masih tetap hidup, lalu menemukan sefer Tehilim (Kitab Zabur/Mazmur dari Torah) di dalamnya.

Di salah satu kota milik suku Pathan, terdapat sebuah bangunan misterius yang disebut “The Holy House”. Tempat itu terus terkunci dan tak seorang pun yang boleh masuk. Orang-orang Yahudi yang berbicara kepada sesepuh suku menemukan bahwa di dalamnya terdapat sifrei Torah. Orang Yahudi mengklaim bahwa bangunan kuno ini dulunya adalah sinagog. Upaya untuk membeli sifrei Torah ini dengan harga tinggi menjadi sia-sia, menyusul adanya tentangan kuat dari para sesepuh suku “karena, begitulah perintah nenek-moyang kita”.

Menurut tradisi setempat, para penduduk lokal mengubur ribuan buku pada kedalaman 10 meter di bawah tanah di kota Balkh (didirikan setelah kerusakan Kuil Pertama) dan lalu membangun jalan di atas tanah itu.
Pejabat distrik Herat, yang menandatangani izin keluar untuk para Yahudi, bertanya kepada salah seorang aktivis komunitas Yahudi tentang tujuan kepergian mereka. Aktivis tersebut menjawab bahwa mereka akan menuju Eretz Yisroel (Land of Israel). Si pejabat terkejut mendengar hal tersebut dan lalu berkata, “Tapi, kami juga berasal dari Children of Israel, mengapa Anda pergi demi Land of Israel?”

Opini Para Pengarang Muslim
Tak ada lagi keraguan mengenai penggunaan nama-nama Yahudi oleh suku-suku Pakhtun/Pasthun, dan nama-nama tersebut tetap dipertahankan oleh Muslim di seluruh dunia, hanya saja mungkin tidak sesering Pakhtun. Inilah alasan mengapa para pengarang Muslim menentang teori ‘Beni Israel’.

Namun kebiasaan aneh suku Pakhtun, seperti:

* “Passover Practice” (perayaan Paskah kaum Yahudi) dengan mengorbankan hewan dan mengolesi pintu untuk menghindari kematian dan bencana.

* Menempatkan dosa-dosa masyarakat pada sapi muda atau kambing yang diusir ke hutan belantara dalam upacara korban menurut Bible.

* Melempari jasad orang-orang terkutuk dengan batu.

* Pembagian tanah secara periodik berdasarkan kavling.[7]

* Upacara khitanan dan pembersihan.

Semuanya tertera dalam Kitab Leviticus milik Beni Israel, dan sejarawan Muslim modern seperti Dr. Azmat Hayat Khan menerima semua kebiasaan tersebut sebagai indikator, meski bukan sebagai bukti warisan Israel pada suku itu.[8] mereka adalah satu-satunya suku di wilayah tersebut yang mempraktekkan semua kebiasaan di atas, sebagaimana Beni Israel kuno melakukannya 2.300 tahun lalu.

Bukti-bukti fisik dan kultur yang melimpah ini telah memaksa para peneliti, Yahudi sekalipun, untuk mengatakan:

“Saya sangat terkejut dengan kemiripan Youssoufszye dan Khyberi, dua dari suku mereka, dengan Yahudi.”[9]

Sumber:

[1] http://www.wjc.org.il/communities/jewish_communities_of_the_world/asia_and_ocea
nia (diakses kembali tanggal 16 Maret 2011 telah hilang)
[2] A. Avihail and A. Brin, Lost Tribes from Assyria, (Jerusalem: 1978), in Hebrew. Excerpts have been taken from the English translation by Issachar Katzir.
[3] L. P. Ferrier, History of the Afghans, Translated by W. M. Jesse from the French Caravan Journeys, (John Murray, London, 1858), p 4.
[4] Ekhnath Easwaran, Badshah Khan, (New Delhi: Penguin Books, 2001) pp. 100.
[5] Shalva Weil, Our Brethren The Taliban?, (Jerusalem: 2002), Jerusalem Post Issue 91 ~ January, February and March 2002 ~ Tevet, Shevat and Adar 5762.
[6] Refoel Berlzonf, Judaism in the Land of the Taliban: “There Was Not Even One Nonobservant Jew amongst the Whole of Afghan Jewry”
[7] Dr. Azmat Hayat Khan, The Durand Line-it’s Geo Strategic Importance,
(Islamabad: Area Study Centre, University of Peshawar, 2000) p. 34
[8] Dr. Azmat Hayat Khan, The Durand Line-it’s Geo Strategic Importance,
(Islamabad: Area Study Centre, University of Peshawar, 2000) p. 30
[9] Rev. Joseph Wolff, D.D. LL.D, Narrative of a Mission to Bokhara in the years 1843-1845, (John W. Parker, London, 1845). Vol. 1 2nd Edition. P. 17.

Kita juga harus mempertimbangkan hubungan antara suku-suku Pakhtun saat ini. Suku “Afghan” Abdali (Durrani), di wilayah barat, mengalami masa-masa yang baik selama Pemerintahan Afghan Ahmad Shah Abdali, namun mereka tak pernah dianggap sebagai pemimpin oleh suku “Pathan” di Pegunungan Suleman, di wilayah timur. Sejak awal, suku Yousufzai tetap merupakan pemimpin yang tak ada bandingannya bagi suku-suku di wilayah timur. Dalam masalah peperangan, bahasa, dan pendidikan, Yousufzai selalu menonjol. Bentuk dialek Pakhto mereka dianggap sebagai dialek yang paling murni, dibandingkan dengan Abdali Pushto yang lebih banyak menggunakan dialek Persia. Sebelum invasi Nadir Shah dari India, Yousufzai masih memiliki Torah dan doa-doa Israel (L. P. Ferrier, History of the Afghans, diterjemahkan oleh W. M. Jesse (John Murray, London, 1858) p 4). Sama dengan Israel kuno, suku Yousuf (yang mencakup suku-suku putranya, Ephraim dan Manasseh) adalah pemimpin kuat Israel kala suku Judah (Yehudah) terpecah-belah. Sepanjang sejarah, Pakhtun Yousufzai dikenal atas jumlah mereka yang besar, serta militansi dan kebuasan mereka dalam perang, sebagaimana suku Yousuf yang dikenang oleh Yahudi, Kristen, dan Muslim. Ibukota dari 10 suku Israel berada di kota Ephraim, sebagaimana kota suku Yousufzai yaitu Peshawar (Pesh-Havor, yang berarti “over Havor”/ “sekitar Havor”), ibukota tak resmi suku-suku Pakhtun di Pakistan.

Ini berarti nama-nama yang dipakai suku-suku Pakhtun pada masa kini pasti berkaitan erat dengan nama-nama Israel mereka yang asli:

Yousufzai – Sons of Yousuf
Gadoon – Gad
Rabbani – Reuben
Abdali – Naphtali
Shinwari – Shimeon
Zamand – Zebulon
Levani – Levi

Keserupaan ciri-ciri fisik, pakaian, sikap, budaya, praktek-praktek, sejarah, silsilah, dan profesi suku Pathan dengan suku-suku Yahudi Israel telah membuat mayoritas sejarawan menerima hipotesis mereka sendiri, bahwa Pathan adalah keturunan dari suku-suku Bani Israel. Wallahu’alam.

——————————

[Diolah dari berbagai sumber dan ada beberapa alamat maya yang sudah tidak tayang. ] Semoga artikel ini mendapatkan koreksi dari para pembaca

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s